Polres Madiun Belum Periksa Kejiwaaan Yunus

Muhammad Roqib, Jurnalis
Jum'at 25 Desember 2009 22:07 WIB
Share :

MADIUN - Pihak Kepolisian Resor (Polres) Madiun belum sempat melakukan pemeriksaan kondisi kejiwaan Yunus Trianto (31), alias Yuyun, warga Jalan Nias, Desa Kincang Wetan, Kecamatan Jiwan, Kabupaten Madiun yang nekat menusuk perut sebelah kanan Bupati Madiun, Muhtarom, dengan obeng tajam pada Selasa 22 Desember 2009 malam.
 
Hingga kemarin, jajaran Polres Madiun masih berkonsentrasi penuh mengamankan perayaan Natal dan tahun baru 2010. Sedangkan, tersangka Yunus hingga saat ini masih diamankan di Mapolres Madiun.
 
"Kami belum sempat mendatangkan tim ahli kejiwaan untuk memeriksa kondisi kejiwaan tersangka (Yunus, red). Nanti, kalau sudah selesai kegiatan pengamanan Natal, kami baru memeriksa dia (tersangka, red) lebih lanjut," ujar Kapolres Madiun, AKBP Umar Effendi, Jumat (25/12/2009).
 
Dari pemeriksaan sementara yang dilakukan petugas, tersangka Yunus yang setiap hari bekerja sebagai tukang elektronik ini kondisinya cukup baik. Dia dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya.
 
"Dari pemeriksaan yang dilakukan petugas, dia nekat melakukan penusukan di tengah keramaian itu hanya karena tidak puas dengan jawaban yang diberikan oleh bupati. Sejauh ini belum ada motivasi lain yang mendorong tersangka nekat melakukan tindakan itu," ujarnya.
 
Tersangka Yunus yang oleh tetangga dan rekan rekannya dikenal pendiam ini selanjutnya bakal menjalani pemeriksaan intensif dari penyidik Polres Madiun. Dia juga menjalani penahanan selama pemeriksaan tersebut. Bapak beranak satu ini bakal dijerat dengan pasal 351 KUHP tentang Penganiayaan, pasal 53 jo 340 KUHP tentang Percobaan Pembunuhan dan UU Darurat RI Nomor 5 Tahun 1957.
 
Kapolres menyatakan, pihaknya tidak merasa kecolongan dengan insiden tersebut. Pasalnya, kata dia, pada malam sarasehan yang merupakan rangkaian kegiatan Bhakti Sosial Terpadu (BST) di lapangan Desa Jiwan, Kecamatan Jiwan, Kabupaten Madiun itu merupakan acara santai sehingga pengamanannya longgar. Selain itu, bupati juga ingin lebih familiar dan lebih dekat dengan warganya.
 
"Jajaran muspida juga semuanya ada di situ. Tapi, kami memang tidak menduga kalau tiba tiba ada salah satu warga yang mendekat bupati dan nekat menusukkan obeng itu," ujarnya.
 
Ke depan, kata Kapolres, untuk mengantisipasi insiden serupa maka pengamanan dan pengawalan terhadap bupati yang dilakukan oleh petugas Polres Madiun pada acara seperti itu akan lebih ditingkatkan. "Sebetulnya, saat itu juga ada ajudan bupati. Jadi, bukan polisi yang kecolongan. Selain itu, kondisi korban (bupati, red) juga tidak apa apa sehingga ini pelajaran berharga buat kami," ujarnya.
 
Sementara itu menurut Kepala Bagian Humas Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Madiun, Mardi'i, mengatakan, insiden tersebut tidak mengganggu aktifitas bupati dalam menjalankan pemerintahan. "Tidak ada masalah. Setelah kejadian itu, pak bupati tetap menjalani aktifitas seperti biasa. Beliau tetap mengikuti kegiatan kerja bhakti, membuka acara pengobatan massal di Jiwan dan lainnya," ujarnya.
 
Namun kemarin, kata dia, Bupati Muhtarom seharian tidak menjalani aktifitas apa pun. Dia beristirahat penuh di Pendopo Pemkab Madiun di Jalan Alon Alon Utara Kota Madiun. Momen libur bersama nasional itu dimanfaatkan oleh bupati berkumpul bersama keluarganya.
 
Orang nomor satu di Kabupaten Madiun dari PKB ini kondisi kesehatannya juga baik. Dia hanya mengalami luka memar dan gores di perut sebelah kanan akibat tusukan obeng pipih sepanjang 30 sentimeter berdiameter 2 milimeter tersebut.
 
Menurut Mardi'i, insiden itu dianggap sebagai insiden kecil yang tak perlu dibesar-besarkan. Namun, di sisi lain sekaligus menjadi pelajaran berharga bagi Pemkab Madiun.
 
"Ke depan, acara sarasehan atau anjang sana bertemu langsung dengan warga mungkin pengawalannya lebih diperketat. Warga tetap bisa bersilaturahmi, berdekatan, dan bersalaman dengan bupati. Namun, terlebih dahulu ada pemeriksaan tidak boleh membawa senjata tajam," ujar Mardi'i yang ikut dalam kegiatan sarasehan bersama dengan warga pada saat insiden tersebut terjadi.
 
Sementara itu menurut Ketua Fraksi Kebangkitan Bangsa DPRD Kabupaten Madiun, Suwandi, insiden penusukan terhadap bupati tersebut tidak ada kaitannya dengan kebijakan Pemkab Madiun. Melainkan, hanya perbedaan pandangan secara agama.
 
"Tidak ada kaitannya dengan kebijakan. Jadi dia (tersangka, red) tidak puas karena pernyataan bupati yang dia nilai tidak sesuai dengan keyakinannya," ujar orang dekat Muhtarom tersebut.

(Fitra Iskandar)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya