Menilik Isi Dialog Kenegaraan Obama dengan Indonesia

, Jurnalis
Senin 22 Maret 2010 11:24 WIB
M Reza S Zaki (Foto: dok Pribadi).
Share :

RENCANA kedatangan Presiden Amerika Serikat Barack Obama ke Indonesia menjadi pemicu pusat perhatian media nasional dan internasional saat ini. Bagaimana tidak?

Obama pada masa kecilnya pernah tinggal selama tiga tahun di Indonesia. Banyak sekali kenangan yang dibangun di Indonesia bersama ayah tiri dan keluarga barunya. Obama pernah bercita-cita ingin menjadi seorang Presiden pascakooptasi yang diberikan oleh almarhum Presiden Soeharto.

Obama begitu terinspirasi dengan sosok Presiden Soeharto pada saat itu. Didukung pula dengan keadaan Indonesia yang sedang karut-marut dari beberapa sendi perekonomian sampai proses kebebasan pada saat itu.
Sehingga, Obama berpikir ingin mengubah keadaan Negara yang terkenal sebagai Negara dengan umat Islam terbesar di dunia. Namun sejarah berkata lain, kini Obama hadir sebagai presiden dari Negari Adikuasa, yaitu Amerika Serikat. Dan Juni Obama akan mengunjungi Indonesia dengan membawa beberapa agenda kenegaraan, termasuk ingin menggelar kuliah umum untuk masyarakat Indonesia di Universitas Indonesia (UI).

Apa saja yang akan dibahas oleh Obama pada pertemuan tiga hari dua malam itu?

Pertama, Obama akan mengajak Indonesia untuk berbicara mengenai isu climate change (perubahan iklim). Indonesia yang dikenal sebagai paru-paru dunia, memang senantiasa dimanfaatkan oleh bangsa asing sebagai tempat pembuangan akhir polusi dari Negara-negara super power di dunia. Istilah peristiwa tersebut sering kita sebut carbon trading. Amerika sampai saat ini masih sulit melobi Indonesia untuk menyepakati carbon trading tersebut.

Kedua, Obama akan membujuk Indonesia untuk bergabung di perdagangan bebas asia pasifik, dimana Amerika Serikat benar-benar khawatir dengan bergabungnya Indonesia ke China Asean Free Trade Area (CAFTA) sangat membahayakan posisi Amerika untuk saat ini. Karena CAFTA kini menjadi area perdagangan bebas terbesar di dunia, bisa kita lihat dari jumlah populasi yang diakumulasikan antara China mencapai 1,5 Miliar dan Indonesia mencapai 240 juta orang.

Bayangkan saja, itulah akumulasi populasi terbesar di dunia yang pernah ada. Dan begitu menjanjikan apabila dilihat dari sudut pandang Ekonomi dunia. Sehingga Amerika Serikat sangat ingin Indonesia dapat bergabung ke perdagangan bebas Asia Pasifik yang dapat menandingi kekuatan CAFTA itu sendiri.

Ketiga, Obama akan membahas permasalahan hubungan keagamaan dengan umat Islam. Sehingga Indonesia menurut Amerika Serikat merupakan negara yang tepat untuk dikunjungi, karena merupakan negara dengan populasi umat Islam terbesar di dunia. Amerika Serikat dalam kunjungannya akan mengklaim bahwa Amerika sudah memiliki hubungan yang harmonis dengan Negara-negara Islam di dunia, dengan datang ke Indonesia sebagai representasinya.Inilah konteks yang sangat merugikan Islam secara general.

Dan yang terakhir, Obama akan membahas terkait kondisi Freeport di Papua. Di mana perusahaan multinasional itu benar-benar merupakan alat bagi Amerika untuk menghabisi negara-negara berkembang secara bertahap. Obama akan melihat eksplorasi Sumber Daya Alam (SDA) yang ada di Indonesia. Di mana itu semua merupakan cita-cita Amerika sejak awal untuk terus memperkokoh hegemoninya di atas developing countries.

Dari kemungkinan-kemungkinan di atas, maka dapat kita simpulkan bahwa Obama beserta bendera Amerikanya akan terus mencari cara dalam rangka menebarkan paham kebebasan/liberlisasi, demokrasi, dan sekuler. Ini merupakan cara dari mereka dalam merengkuh pasar dunia, termasuk di Indonesia.

Lantas apakah kita sebagai kaum intelektual organik menanggapi kedatangan ini sebatas jumpa fans? Atau kita justru ingin terus mengawal selama Juni 2010 dalam dialog kenegaraannya dengan Presiden Susilo Bambang Yudohyono (SBY) dan dengan pimpinan DPR RI di Jakarta?

Maka daripada itu, mari kita mengisi forum-forum diskusi yang padat dengan solusi bangsa dalam hubungan Billateral kedua Negara ini. Agar Indonesia kedepan akan kokoh dalam diplomasi Internasional.

M Reza S Zaki
Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada

(Rani Hardjanti)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya