JAKARTA - Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional (Dirjen Dikti Kemendiknas) Djoko Santoso menyatakan, dunia pendidikan tinggi Indonesia seharusnya tidak terpaku pada standar yang dibuat pihak lain dalam mengukur keberhasilan suatu perguruan tinggi.
Hal ini disampaikan Djoko sehubungan dengan menurunnya peringkat berbagai perguruan tinggi Indonesia dalam pemeringkatan yang dilansir QS World University, baru-baru ini. Dalam pemeringkatan itu, Universitas Indonesia menempati posisi ke-50, diikuti oleh Universitas Gadjah Mada (UGM) di peringkat 321, Institut Teknologi Bandung (ITB) posisi ke-421, dan Universitas Airlangga (Unair) di peringkat 466.
Menurut Djoko, daya saing memang dibutuhkan. Namun pemeringkatan tersebut dinilainya juga merupakan salah satu trik dagang. "Yang penting adalah bagaimana kita membuat perguruan-perguruan tinggi kita untuk tetap pada misi pendidikannya secara berkesinambungan dan berguna bagi masyarakat," tegas Djoko kepada okezone, Sabtu (18/9/2010).
Dia menilai, pengakuan internasional tidak hanya dilihat dari rangking, tetapi juga dari prestasi yang diraih perguruan tinggi seperti menjuarai berbagai kompetisi.
Saat ini, Dikti menekankan program untuk meningkatkan prestasi dan kualitas perguruan tinggi sesuai keunggulan masing-masing. "Secara khas masing-masing perguruan tinggi harus unggul, termasuk pada bidang budaya," imbuhnya.
Untuk itulah, Djoko mengimbau agar para praktisi pendidikan tinggi tidak terpaku pada standar yang dibuat orang lain. "Kenapa kita tidak membuat standar sendiri?" tandasnya.
Mantan Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) ini menyayangkan, berbagai pemeringkatan perguruan tinggi yang ada sifatnya sangat global dan tidak menggambarkan keadaan sesungguhnya pada tiap perguruan tinggi. "Terkadang tidak fair. Misalnya satu perguruan tinggi hanya kuat di dua bidang, sementara yang dinilai ada lima bidang. Jadinya, poin penilaian yang dipakai tidak mewakili diversivitas yang ada di berbagai universitas," sesalnya.
Meski demikian, Djoko mengingatkan, kita harus mengetahui kelemahan pendidikan tinggi Indonesia agar dapat mengubahnya menjadi kekuatan yang dipertimbangkan dunia.
(Rani Hardjanti)