ITS Kukuhkan Lima Guru Besar

, Jurnalis
Selasa 28 September 2010 14:05 WIB
Image: corbis.com
Share :

SURABAYA – Lima tenaga pengajar di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya dikukuhkan sebagai guru besar. Mereka adalah Prof. Dr. Ketut Buda Artana sebagai guru besar ke-92, Prof. Dr. Ir. Joko Lianto Buliali M.Sc. (ke-93), Prof. Dr. Daniel M Rasyid Ph.D. (ke-94), Prof. Dr. techn. Drs. Mohammad Isa Irawan M.T. (ke-95), dan Prof. Ir. Mukhtasor M.Eng. Ph.D. (ke-96).

Ketut menyusun orasi ilmiah berjudul Rekayasa Keandalan Sistem Wahana Laut sebagai Salah Satu Pilar Rekayasa Teknologi Kelautan. Dalam orasi ini, pengajar di Jurusan Teknik Sistem Perkapalan Fakultas Teknologi Kelautan (FTK) ITS memaparkan pentingnya memprediksi sistem keamanan sebuah kapal laut. Dengan adanya prediksi ini, diharapkan akan mampu mengurangi tingkat kecelakaan laut. "Simulasi untuk prediksi ini bisa dilakukan lewat mesin komputer,” ungkapnya.

Pria kelahiran Singaraja, Bali, ini memaparkan, manajemen keselamatan kapal laut juga penting untuk memprediksi terjadinya kegagalan dalam perjalanan. Karena itu, sebelum perjalanan akan diketahui, suku cadang apa saja yang dibutuhkan. Hal itu disebabkan ada komponen tertentu dari kapal yang akan rusak. "Jika kapal andal, risiko kecelakaan akan kecil. Kemudian, penghasilan bagi pemilik kapal juga akan bertambah," urainya.

Joko mengangkat orasi ilmiah berjudul Simulasi Komputer untuk Pendukung Pengambilan Keputusan. Pengajar di Jurusan Teknik Informatika ITS ini memaparkan pentingnya simulasi sebelum mengambil keputusan. Menurutnya, simulasi dapat meminimalisasi biaya yang dikeluarkan. Hal ini, misalnya, terkait kebutuhan dalam menambah kasir dalam suatu toko, mengingat jumlah pembeli yang kian meningkat. Karena itu, perlu ada simulasi tentang berapa sebenarnya jumlah kasir yang dibutuhkan dan biaya yang dikeluarkan. Memang, dengan banyaknya kasir konsumen dapat terlayani dengan baik, tapi tentunya pengeluaran juga akan membengkak untuk menggaji kasir tersebut. “Simulasi ini akan mampu menghitung berapa biaya yang dikeluarkan dalam satu periode,” paparnya.

Daniel mengambil orasi ilmiah berjudul Paradigma Kepulauan Pembangunan Indonesia Abad 21. Orasi ilmiah ini mengkritisi tentang sistem sentralistik yang masih mendominasi dalam konsep pembangunan di Tanah Air. Sesuai dengan ciri sebagai negara kepulauan, maka sistem pembangunan pun harus berdasarkan ciri tersebut. Caranya dengan menerapkan sistem desentralisasi. "Dengan demikian, petani dan nelayan yang ada kepulauan bisa mengambil keputusan secara cepat. Hal itu salah satunya dalam menyikapi perubahan iklim. Jadi, tidak perlu lagi menunggu keputusan dari pemerintah pusat," ungkapnya.

Pengajar di Jurusan Teknik Kelautan ITS ini berpendapat, kebijakan transportasi selama ini masih bersandar pada darat dan bukan laut. Padahal, yang paling efektif dan efisien bagi negara kepulauan adalah optimalisasi transportasi laut. Jakarta menjadi ambles, juga disebabkan kelebihan kendaraan.

Mohammad Isa menyusun orasi ilmiah berjudul Biologically Inspired Computing. Isa mengulas gabungan dari berbagai bidang yang berkaitan seperti connectionism, social behaviour, dan emergence.

Sementara, Mukhtasor menyajikan orasi ilmiah berjudul Teknologi dan Ekonomi Pencemaran Laut. Orasi ini mengkritisi soal keberadaan industri kurang memperhatikan dampak dari limbah yang mereka keluarkan sehingga bisa mencemari laut. Di samping merugikan lingkungan, juga merugikan ekonomi masyarakat.

Ketut dan Joko akan dilantik pada 4 Oktober mendatang. Sementara Daniel, Mohammad Isa, dan Mukhtasor dikukuhkan pada 12 Oktober 2010. (Lukman Hakim/sindo)

(Rani Hardjanti)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya