JAKARTA - Pernikahan antara Muhammad Umar dan Fransiska Anastasia Oktaviani alias Rahmat, tak hanya membuat terkejut warga Kampung Bojong, Jatisari, Jatiasih, Bekasi. Namun juga juru bicara presiden, Julian Aldrin Pasha.
Pasalnya karangan bunga atas nama Presiden SBY turut memeriahkan pesta pernikahan yang digelar enam bulan lalu itu.
"Wah saya belum dengar itu klarifikasi dulu lah," katanya sambil tersenyum di komplek Istana Negara, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Senin, (4/4/2011).
Ia juga membantah bahwa presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY) yang mengirimkan karangan bunga tersebut.
"Saya belum dengar itu, belum ada komentar soal tentang itu,"sambungnya.
Sebelumnya karangan bunga ukuran 1x2 meter diakui Umar bukan asli kiriman SBY, melainkan rekayasa yang dilakukan Rahmat untuk meyakinkan masyarakat sekitar. Umar juga menduga masyarakat telah curiga dengan hal tersebut.
Sebagaimana diketahui, saat ini masyarakat tengah digegerkan dengan pemberitaan pernikahan antara Umar dan Rahmat. Umar merasa ditipu setelah mengetahui bahwa istrinya tersebut ternyata seorang laki-laki. Saat ini, kasus tersebut tengah diselidiki Polsek Jatiasih, Bekasi, Jawa Barat.
Kapolsek Jatiasih, AKP D. Karosekali mengungkapkan, perkenalan Umar dan Anastasya atau Icha berawal dari perkenalannya di Jejaring sosial Facebook, setelah melakukan kopi darat di sebuah Mall di kawasan Cibubur, Jakarta Timur.
Kedekatan keduanya lebih mantap hingga berlanjut kepelaminan. Bahkan perayaan dilangsungkan di rumah mempelai pria dengan dihadiri wali yang mengaku orang tua mempelai wanita.
Enam bulan berlalu pernikahan Umar dan Fransiska. Namun Umar curiga, meski sudah enam bulan menikah namun sang istri belum juga memberikan kewajibannya sebagai seorang istri dalam melakukan hubungan biologis.
Jika Umar menginginkan hubungan layaknya suami istri, Fransiska selalu mencari alasan untuk menolak ajakan Umar.
Umar dan keluarga bahkan tetangga akhirnya mencurigai gelagat tidak baik pelaku, dengan dihadiri ketua RT setempat keluarga meminta Fransiska untuk memeriksa kelamin di klinik terdekat, namun lagi-lagi Fransiska berbohong dengan membuat surat keterangan palsu. Ketua RT yang sudah mengetahui penyataan bohong Fransiska akhinya memaksanya untuk mengaku akhirnya pelaku mengaku bahwa dirinya berjenis kelamin pria.
(Ahmad Dani)