RS Diminta Tak Naikkan Harga Darah ke Pasien

Sudarsono, Jurnalis
Kamis 14 April 2011 19:00 WIB
Ilustrasi (Foto: Dok Okezone)
Share :

JAKARTA - Ketua Forum Komunikasi Dermawan Darah 75-100 (Fokuswanda) Komisariat DKI Jakarta, Koes Pranowo, meminta rumah sakit agar tak menaikan harga darah kepada pasien. Pasalnya tak semua pasien berasal dari kalangan ekonomi kelas atas.

”Pengelola rumah sakit jangan hanya mengejar keuntungan semata. Tapi juga harus menerapkan nilai-nilai kemanusiaan,” ujar Koes Pranowo di sela acara donor darah di Kantor Pusat ISS Facility Services di Bintaro Jaya, Tangerang Selatan, Kamis (14/4/2011).

Hal ini diungkapkan Koes Pranowo menyusul adanya rumah sakit di Jakarta yang menjual harga darah per kantongnya mencapai Rp1.250.000. Padahal Palang Merah Indonesia (PMI) DKI Jakarta menjual darah per kantongnya hanya Rp250.000. ”Dengan demikian, rumah sakit mendapatkan keuntungan per kantong darah mencapai Rp1 juta,” katanya.

Pengelola rumah sakit berdalih, bahwa melejitnya harga darah tersebut karena rumah sakit juga mengeluarkan biaya penyimpanan darah agar tetap layak digunakan bagi pasien yang membutuhkan. Tapi, kata Koes Pranowo, kenaikan harga tersebut dinilai tak wajar. Sebab secanggih apapun alat penyimpanan yang dimiliki rumah sakit, masih kalah canggih dibandingkan dengan alat penyimpanan yang dimiliki PMI.

Praktik penjualan darah yang tak wajar ini, kata Koes Pranowo, karena hingga saat ini belum ada kebijakan yang mengatur soal ini. Karena itulah, pihaknya dalam waktu dekat ini akan mengundang pengelola rumah sakit di DKI Jakarta untuk membahas aturan main soal penjualan darah ini.

”Saya sudah melaporkan persoalan ini kepada Bu Rini Sutiyoso sebagai Ketua PMI DKI Jakarta sebagai mitra kami. Beliau meminta saya untuk membahas persoalan ini dengan pengelola rumah sakit di Jakarta agar semua pihak diuntungkan,” kata Koes Pranowo.

Dalam kesempatan itu, dia juga mengungkapkan bahwa hingga saat ini mayoritas pendonor darah justru berasal dari kalangan masyarakat kelas menengah ke bawah. Sedangkan pendonor darah dari kalangan kelas atas sangat minim. ”Maka dari itu kami mengajak semua komponen masyarakat dari berbagai kalangan, terutama kalangan kelas atas dengan rela mendonorkan darahnya,” kata Koes Pranowo.

Sebab hingga saat ini pasokan darah di Jakarta masih lebih kecil dibandingkan dengan kebutuhan. Kekurangan ini semakin besar apabila memasuki bulan puasa. Di mana pada saat itu, pendonor darah minim karena mayoritas masyarakat Indonesia adalah muslim. Sedangkan di sisi lain permintaan meningkat lantaran meningkatnya kecelakaan lalu-lintas.

”MUI (Majelis Ulama Indonesia) sendiri menyatakan bahwa mendonorkan darahnya pada bulan puasa tidak haram, asalkan dilaksanakan pada malam hari,” katanya.

(Muhammad Saifullah )

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya