Kisah dramatis keluarga Steve Jobs

Koran SI, Jurnalis
Jum'at 07 Oktober 2011 09:11 WIB
pendiri Apple Steve Jobs
Share :

Sindonews.com - Tidak ada yang menyangka kehidupan pribadi Steve Jobs dengan keluarga aslinya sangat dramatis. Terlahir sebagai anak adopsi, Steve Jobs berjuang keras mencari ibu, saudara, dan ayah kandungnya yang berkewarganegaraan Siria.

November 1996, wartawan New York Times, Steve Lohr, diajak oleh pendiri Apple, Steve Jobs, berjalan-jalan dengan mobil kesayangannya Porsche warna abu-abu. Menyusuri jalan-jalan di San Fransisco, Steve Jobs bercerita banyak tentang pekerjaannya di Apple dan keinginannya yang sangat kuat untuk membesarkan Apple.

Maklum, waktu itu setelah hengkang, Steve Jobs akhirnya menyatakan kembali ke Apple. Segala hal diceritakan Steve Jobs kepada Steve Lohr. Namun, dari semua yang dia berikan tak satu pun keluar dari mulut Steve Jobs tentang keluarga aslinya. Padahal, waktu itu semua orang sudah mafhum kalau Steve Jobs adalah anak yang diadopsi oleh pasangan suami istri, Paul Jobs dan Clara Jobs.

Di tulisannya yang diterbitkan oleh New York Times pada Januari 1997, Steve Lohr cuma mengatakan, pria kelahiran 24 Februari 1955 itu selalu tertutup membicarakan keluarga kandungnya. Namun, tidak bisa diragukan lagi upaya Steve Jobs menemukan mereka kembali.

“Dia tidak pernah menyerah mencari siapa orang tua sesungguhnya atau pun saudaranya. Dia bahkan baru bertemu dengan saudara kandungnya di usia 27 tahun,” tulis Steve Lohr.

Kehidupan pribadi Steve Jobs memang penuh liku-liku seperti sinetron di Indonesia. Pria yang menganut agama Buddha ini dilahirkan oleh pasangan kekasih bernama Abdullahfattah Jandali, pria muslim asal Siria, dan Joanne Schieble, warga asli Amerika.

Abdulfattah Jandali bertemu dengan Joanne di University of Wisconsin. Waktu itu dia dan Schieble sama-sama kuliah untuk mendapatkan gelar master.Saat berhubungan itu, Jandali dan Schieble melahirkan seorang putra. Dalam keterangannya yang ditulis di Saudi Gazette, Abdulfattah Jandali mengaku berencana menikahi Schieble.

Namun, ayah Schieble sangat konservatif dan enggan memiliki menantu seorang imigran. Khawatir kuliah Schieble terganggu, akhirnya mereka sepakat menyerahkan anak yang belum diberi nama itu kepada suatu keluarga yang ingin mengadopsi.

Menurut Jandali, saat itu ada dua keluarga yang hendak mengadopsi anak mereka. Pertama adalah pasangan pengacara dan istrinya. Namun,mereka akhirnya mengurungkan niat mengadopsi begitu tahu anak yang diadopsi adalah laki-laki. Mereka berencana mengadopsi anak perempuan.

Pasangan kedua justru jauh dari harapan Abdulfattah Jandali dan Schieble. Sebab, pasangan tersebut sama sekali tidak mengenyam bangku kuliah. Namun,Schieble akhirnya mau memberikan anak tersebut kepada mereka dengan persyaratan mereka harus mampu menyekolahkan anak yang mereka adopsi hingga kuliah.

Nama pasangan itu adalah Paul Jobs dan Clara Jobs. Bersama merekalah kehidupan anak tanpa nama itu dimulai. Paul Jobs dan Clara Jobs memutuskan memberikan nama Steve kepada anak tersebut. Karena berada di lingkungan keluarga Jobs, nama lengkap anak tersebut menjadi Steve Jobs.

Di saat Steve Jobs memulai kehidupan bersama Paul dan Clara, Abdulfattah Jandali dan Schieble justru berpisah. Namun, tak butuh waktu lama bagi keduanya untuk kembali bersama lagi dan menikah. Setelah itu Joanne Schieble melahirkan anak kedua mereka, Mona.

Sayangnya hubungan Jandali dan Schieble kembali retak di saat usia Mona menginjak 4 tahun. Jandali memutuskan kembali ke Siria untuk mengejar karier pemerintahan di Siria. Tidak ingin ditinggal jauh, Schieble memutuskan bercerai. Ia kemudian menikah lagi dengan George Simpson.

Dia pun mengubah namanya menjadi Joanne Simpson. Begitu juga anak bungsu Abdulfattah Jandali, Mona Simpson. Kisah kedua kakak-beradik ini sama-sama briliannya. Meski keluarga Jobs dan Simpsons jatuh bangun membiayai anak-anak mereka, hasilnya justru luar biasa.

Steve Jobs sukses besar dengan Apple sementara Mona Simpson menjadi seorang penulis terkenal di Amerika Serikat. Buku pertamanya "Anywhere but Here" malah menjadi bestseller di Negeri Paman Sam. Berkat buku inilah hubungan Steve Jobs dan keluarga aslinya terkuak.

Di pesta perayaan atas larisnya buku "Anywhere but Here", Steve Jobs dan ibunya, Joanne Simpson, tampil untuk pertama kalinya bersama keluarga asli. Namun, baik Mona, Steve, dan Joanne tetap menolak menceritakan secara detail mengenai kehidupan mereka kepada media massa. “Saya dan kakak saya sangat dekat. Saya sangat mengaguminya,” ujar Mona Simpsons kepada New York Times.

Meski telah menemukan keluarga asli, sulit bagi Steve Jobs untuk melupakan budi baik Paul dan Clara Jobs. Kerja keras Paul dan Clara selalu menginspirasi Steve Jobs. Makanya, Steve Jobs tetap bungkam ketika ayahnya yang asli, Abdulfattah Jandali, berbicara kepada The Sun dan Saudi Gazette tentang penyakit kanker yang ia derita Agustus lalu.

(Andina Meryani)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya