PVMBG: Gunung Gamalama Meletus Karena Gempa Lokal

Iman Herdiana, Jurnalis
Jum'at 09 Desember 2011 02:31 WIB
(foto/okezone)
Share :

BANDUNG - Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Surono mengatakan penyebab letusan Gunung Gamalama karena adanya gempa lokal di Ternate.

Sebab, Gunung Gamalama meletus secara tiba-tiba dalam rentang waktu hitungan jam.

Surono menuturkan, Gunung Gamalama sejak Mei 2008 statusnya Waspada Level II. Kondisinya fluktuatif sehingga cukup lama gunung ini dalam status Waspada. Hanya saja aktivitasnya tidak mencolok sehingga tidak melampaui aktivitas gunung api berstatus waspada.
 
Hingga menjelang letusan, lanjut Surono, pada Minggu 4 Desember lalu sekira pukul 10.54 WIT dan 11.29 WIT, tercatat dua kali gempa vulkanik dangkal, pukul 14.08 WIT satu kali gempa vulkanik dangkal, namun tiba-tiba pukul 16.50 WIT sampai sekira pukul 23.00 WIT, gempa vulkanik dangkal mulai meningkat mencapai 60 kali.

“Ini pasti ada kaitannya dengan gempa tektonik lokal terasa pada pukul 18.31 WIT dan 19.39 WIT yang terjadi dua kali. Saya kira yang menjadi gara-gara letusan Gunung Gamalama dua gempa teknonik terasa itu. Jadi seperti botol soda penuh karena waspada sudah lama tiba-tiba dikocok, maka tekanan dalam botol tinggi dan tutupnya jebol,” kata Surono, di Kantor PVMBG, Bandung, Kamis (8/12/2011).

Maka, lanjutnya, pada hari letusan itu sejak pukul 22.58 WIT mulai muncul gempa tremor. “Pukul 22.00 WIT kami rapat membahas kondisi itu, lalu kita naikan waspada menjadi Siaga Level III. Dan Satu jam kemudian pukul 00.08 terjadi letusan. Jadi satu jam saja. Ada suara gemuruh dan sebagainya,” terangnya.

Kenapa PVMBG tidak menaikan status Awas Level IV sehingga diperlukan pengungsian dan evakuasi warga? Menurutnya, karakter Gunung Gamalama berbeda dengan Gunung Merapi yang memiliki daya letus dahsyat.

Magma di dalam Gunung Gamalama bersifat encer sehingga tidak memproduksi gas yang besar seperti Gunung Merapi. Karakter Gunung Gamalama bersifat magmatik. Magmanya tidak kental seperti gunung api di Pulau Jawa. Jika magmanya kental, diperlukan produksi gas yang besar untuk mendorong menjadi letusan.

Magma Gunung Gamalama encer karena silikanya lebih rendah di bawah 50 persen. Sedangkan Gunung Merapi silika di atas 56 persen. “Nah Gamalama magmanya encer. Jadi magmanya lebih mudah terdorong ke permukaan,” ujarnya.

Selain itu, yang menjadi triger letusan adalah gempa tektonik di luar gunung yang membuat Gamalama tidak stabil. Gempa lokal tersebut membuat letusannya tidak signifikan dibanding Gunung Merapi yang aktivitasnya dibangun dari bawah gunung.

“Konstruksi Gamalama ini tidak membuat sesuatu letusan yang besar,” ujarnya.

Surono menegaskan, karena karakter itulah Gunung Gamalama tidak menimbulkan awan panas, hanya menimbulkan abu vulkanik saja. Abu vulkanik sudah sampai ke Pos Pemantauan PVMBG di Desa Marikrubu yang jaraknya sekira 4 km. “Sekarang nggak ada awan panas hanya abu vulkaniknya saja,” ujarnya.

Aktivitas terkini Gunung Gamalama, lanjutnya, cenderung menurun. Misalnya, keitinggian asap dari puncak Gunung Gamalama sudah di bawah 1.000 meter, yakni 800 meter pada Selasa 6 Desember, dan Rabu 7 Desember turun jadi 500 meter.

Padahal, pada awal letusan ketinggian asap mencapai 2.000 meter. Aktivitas tremornya juga tinggal 7 mm yang saat letusan mencapai 30 kali. "Saya kira Gamalama sudah masuk pada tren menurun. Namun tetap saja kita pantau apakah tren ini tidak diikuti dengan suplai magma dari dalam. Jika itu terjadi akan lain ceritanya," ujarnya.

PVMBG tetap memantau Gunung Gamalama. Terutama kemungkinan adanya suplai magma dari dalam perut Gunung. “Jika ada suplai dari dalam tentu persoalan akan lain. Tetapi mudah-mudahan tidak terjadi. Sekarang fluktuasi tremor suah menurun,” ujarnya.

Meski begitu, Surono mengakui ada kepanikan di masyarakat sekitar akibat letusan gunung, gemuruh, hingga menimbulkan mati listrik. Tetapi dia menegaskan, aktivitas Gunung Gamalama seharusnya tidak membuat masyarakat panik dan mengungsi.

“Kita harus beri pengertian kepada masyarakat Ternate bahwa tidak harus selalu mengungsi jika resikonya tidak begitu besar,” tegasnya. (tri)

(Amril Amarullah)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya