Pantau Pengiriman Barang dengan GPS 2 Arah Unikom

, Jurnalis
Rabu 18 Januari 2012 10:01 WIB
Image: corbis.com
Share :

MAHASISWA Universitas Komputer Indonesia (Unikom), Bandung, Subhan Rohiman berhasil menciptakan perangkat Global Positioning System (GPS) dua arah.

Berbeda dari GPS yang ada, perangkat buatan mahasiswa jurusan Teknik Komputer angkatan 2008 ini setelah dipasangkan dapat dipantau langsung dan melaporkan progress pada pemantau. Menurut dosen pembimbing Subhan Rohiman, Agus Mulyana, alat tersebut terinspirasi dari pengiriman barang yang sering terjadi penyimpangan, sehingga perlu ada alat yang bisa memantau secara langsung.

"Nantinya kalau ada pengiriman barang bisa dipantau dengan GPS, tidak hanya posisi, tapi juga waktunya. Pemantau cukup menunggu laporan dari GPS, karena alat ini bekerja otomatis," ujar Agus, kemarin.

Untuk menjaga keamanan data, GPS dilengkapi keamanan varicode yaitu penyandian khusus yang biasa digunakan oleh pengguna radio, sehingga data yang dilaporkan oleh GPS diubah dalam bentuk sandi yang hasilnya bisa aman dan diketahui pemantau. Menurut dia, riset pembuatan alat pemantau tersebut memakan waktu hingga satu tahun. Dimulai dari penelitian skala laboratorium hingga menjadi alat yang bisa digunakan. Beberapa waktu lalu, alat tersebut telah diujicobakan.

"Ini tidak murni GPS karena ada alat-alat lain yang digunakan sehingga hasil pantauan bisa terlihat oleh pemantau. Untuk mempergunakannya juga cukup dipasang di mobil, nantinya sejenis antena akan memancarkan pantauannya," jelasnya.

Karena menggunakan frekuensi radio, penggunaan alat ini bebas biaya dan jangkauannya tak terbatas. Namun, tentunya ada beberapa kendala seperti daya pancar, antena, dan media penghalang seperti gunung atau hutan. Karena menggunakan GPS lokal, akurasinya pun masih meleset sekira 5-10 meter.

"Tapi itu tidak masalah kalau untuk pantauan kendaraan, karena ini bukan untuk mencapai target sasaran yang harus tepat akurasinya," ucapnya.

Untuk biaya pembuatan alat tersebut membutuhkan biaya sebesar Rp5 juta. Untuk GPS dibeli senilai Rp500 ribu, modifikasi alat tambahan Rp1,5 juta, perangkat radio Rp1 juta, dan sisanya biaya riset. (masita ulfah/koran si)

(Rifa Nadia Nurfuadah)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya