YOGYAKARTA – Metode penyampaian materi ilmu hitung atau aritmatika yang masih menggunakan cara konvensional atau vertikal memang membosankan.
Melatih logika berhitung juga menjadikan siswa kurang tertarik. Bahkan, siswa takut (fobia) terhadap mata pelajaran matematika. Supaya pelajaran ini mudah dan menyenangkan, perlu metode baru. Contohnya, metode metris (horizontal). Selain mudah, cara ini juga lebih efektif dan efisien.
"Metode matris ini bukan hanya untuk mengasah logika hitung (otak kiri), tapi juga kemampuan kreativitas pengenalan pola (otak kanan), yakni dengan menggunakan notasi pagar," ungkap Creator of Metris dari Universitas Atma Jaya (UAJY) Jakarta Stephanus Ivan Goenawan dalam "Seminar Nasional Pendidikan Matematika" yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Matematika (Himatika) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), kemarin.
Stephanus menuturkan, dalam alam berpikir konvensional, untuk eksekusi kuadrat bilangan yang angkanya lebih besar menjadi lebih susah. Namun, dengan metode metris tidak selalu demikian. Justru sebaliknya, dapat lebih mudah. Alasannya, ketentuan notasi pagar metris adalah banyaknya angka harus sesuai dengan jumlah pagar di sebelah kirinya. Contoh perhitungan menggunakan metris 94 kuadrat,yakni 9^2|2x9x4|4^2=81|72|16=8.836.
"Dari ketentuan itu, maka pada kotak kedua dan ketiga angka tujuh dan satu masing-masing dipindah ke kotak pertama dan kedua. Lalu dijumlahkan dengan angka yang telah ada sebelumnya pada kotak tersebut. Sehingga untuk 94 kuadrat hasil akhirnya diperoleh angka 8.836," papar Ivan dalam paparan makalahnya berjudul "Metris: The Best Arithmetics For Education Be The Center Knowledge of Arithmetics in The World."
Di samping mampu menciptakan creative human calculator, dengan metode ini siswa mampu melakukan perhitungan perkalian melebihi kemampuan kalkulator 12 digit. Kemampuan itu bukan lagi bakat sejak lahir (gifted), tapi dapat dipelajari melalui metris sehingga potensi kreativitas siswa dalam berhitung semakin terasah.
"Metode ini bukan saja mengenalkan pada keteraturan pola angka, tapi juga dapat dikembangkan melalui portal-portal metode horizontal," papar Ivan.
Cara ini mampu membuat siswa belajar aktif dan gembira karena tertarik, menyukai, dan senang dengan penggunaan notasi pagar. Jika metode metris dapat masuk ke dalam kurikulum pendidikan nasional, maka Indonesia dipastikan unggul dalam ilmu aritmatika.
"Bukan saja berada satu langkah di depan negara serumpun, tapi juga dengan negara-negara lainnya," Ivan menandaskan.
Humas FMIPA UNY Witono Nugroho mengungkapkan, selain mencari solusi pembelajaran matematika efektif dan efisien, kegiatan ini sebagai rangkaian dalam meriahkan dies natalis enam windu atau 48 tahun UNY. (priyo setyawan/koran si)
(Rifa Nadia Nurfuadah)