Indonesia Negara Gagal, Dewi: Ini Negara Auto Pilot

Misbahol Munir, Jurnalis
Kamis 21 Juni 2012 08:42 WIB
Ilustrasi (Foto: Dok Okezone)
Share :

JAKARTA - Kondisi bangsa akhir-akhir ini membuat rakyat makin apatis menjalani kehidupan sehari-hari. Berbagai rupa masalah bangsa dan kerakyatan menjadi potret kegagalan pemimpin negara membawa negara menuju cita-cita sebagai negara yang berdaulat adil dan makmur.
 
Hal tersebut disampaikan oleh politikus PDI Perjuangan Dewi Aryani kepada Okezone, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (20/6/2012).
 
Menurut dia, headline salah satu media swasta hari ini menjadi puncak berita derita utama bahwa Indonesia memang benar menuju negara gagal. Media tersebut menyebutkan bahwa dalam Indeks Negara Gagal (Failed States Index/FSI) 2012 yang dipublikasikan di Washington DC, Amerika Serikat, Senin (18/6) kemarin, Indonesia menduduki peringkat ke-63 dari 178 negara. Dalam posisi tersebut, Indonesia masuk kategori negara-negara yang dalam bahaya (in danger) menuju negara gagal.
 
"Kita sudah dalam posisi terjerat oleh ketergantungan. Kedaulatan di berbagai bidang tergerus oleh kebijakan yang tidak berpihak kepada kepentingan bangsa dan negara. Indikasinya antara lain Pemerintah "tidak hadir" alias auto pilot, Hukum belum jadi panglima dan harga keadilan mahal, Pendidikan dan kesehatan tidak terjangkau mayoritas rakyat, Intoleransi menguat termasuk politisasi terhadap intoleransi. Kita tidak punya intelligence minded sehingga national interest tergadai, social distrust dan social disobey terjadi dimana mana," ungkap anggota Komisi VII DPR RI itu.
 
Ketergantungan paling nyata kata dia, sudah terjadi diberbagai sektor. Seperti ketergantungan dalam sektor kebutuhan pangan, energi, bahkan dalam pemanfaatan APBN juga tidak dirasakan oleh masyarakat.
 
"Ketergantungan dan jeratan yang sangat nyata diantaranya berbagai impor bahan primer Food and Energy, minyak dan gas, hingga penggunaan dan pemanfaatan APBN tidak efektif dan efisien. Dalam bidang ekonomi, keadilan ekonomi di pasar modal tidak nampak dilihat dari kondisi dimana saham-saham BUMN yang go publik rakyat Indonesia tidak merasakan memiliki manfaatnya," jelasnya.
 
Oleh sebab itu dia mendesak pemerintah agar segera melangkah-langkah untuk mengatasi ketertekanan dalam berbagai sektor tersebut. Sebab jika tidak Republik Indonesia sebagai negara kaya raya nantinya hanya tinggal sejarahnya saja.
 
"Peran pemerintah memberikan kebutuhan dasar untuk rakyat sangat memprihatinkan. Berbagai tekanan psikologis terus berlangsung mulai dari soal kenaikan harga bbm,kenaikan harga listrik, ketakutan PHK buruh di berbagai sektor, dan sebagainya. Hendaknya pemimpin menyadari hal ini, kita sudah berada di ujung tanduk. Jangan sampai NKRI tinggal sejarah saja nantinya", tandas Dewi.

(K. Yudha Wirakusuma)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya