TEHERAN - Dalam pidatonya di Konferensi Tingkat Tinggi Gerakan Non-Blok (KTT GNB) Presiden Mesir Mohamed Morsi menyerukan dukungan bagi oposisi Suriah demi menggulingkan rezim Bashar al-Assad. Morsi bahkan mengingatkan Iran atas resiko dukungan Negeri Persia itu terhadap rezim Assad.
Secara terang-terangan Presiden Mesir itu mengatakan, Iran dapat mengambil resiko yakni konfrontasi mendalam dengan kekuatan regional atas dukungannya kepada rezim Suriah. Pernyataan ini dinilai merupakan pukulan telak bagi Iran yang menjadi tuan rumah pertemuan GNB.
Morsi pun mendesak Iran untuk dengan "Sahabat Suriah" dan mendukung oposisi demi menghindari resiko diasingkan dari sejumlah negara-negara kuat di kawasan seperti Turki, Arab Saudi atau bahkan Mesir.
Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad kabarnya duduk tepat disebelah Morsi ketika Presiden Mesir itu menyampaikan pidatonya. Sementara itu delegasi Suriah lebih memilih walk out dibandingkan mendengar pidato Morsi yang dianggap menyudutkan negaranya.
"Pertumpahan darah di Suriah adalah tanggung jawab kita semua dan kita tidak akan berhenti sampai ada intevensi nyata untuk menghentikannya. Krisis Suriah menyayat hati kita semua," ujar Presiden Morsi, seperti diberitakan Washington Examiner, Jumat (31/8/2012).
Tidak lama setelah itu, Menteri Luar Negeri Suriah Walid al-Moallem yang memimpin delegasi negaranya pun turut mengomentari pernyataan Morsi. Ia menilai Morsi melalui pernyataan-pernyataannya telah melakukan campur tangan atas konflik internal Suriah.
"Komentar Morsi bertentangan dengan tradisi pertemuan ini dan merupakan campur tangan dalam urusan internal Suriah," tegas al-Moallem.
Menlu Suriah menuding Morsi bahkan turut menghasut terjadinya pertumpahan darah di Suriah. Kendati dinilai menjadi tuan rumah bagi Iran dalam pertemuan GNB dapat mematahkan spekulasi bahwa Negeri Paramullah itu terisolasi akibat sanksi. Namun hal tersebut tidak menyurutkan sejumlah pemimpin dunia untuk melontarkan kecaman atas Iran.
Selain Morsi, Sekjen PBB Ban Ki-Moon juga mengetahui pernyataan keras atas Iran. Ban bahkan menyoroti kekhawatiran terkait catatan pelanggaran hak asasi manusia Iran dan mengatakan sejumlah kecaman Iran terhadap Israel tidak dapat diterima.
(Rani Hardjanti)