JAKARTA - Keikutsertaan artis di ranah politik yang marak terjadi belakangan ini dinilai hanya diposisikan untuk daerah
tertentu, sesuai dengan karakteristik masyarakat. Cara ini dinilai sebagai upaya partai untuk menarik suara dari masyarakat yang mengidolakan artis yang diusung.
"Partai membaca kebutuhan masyarakat, lepas dari kebutuhan masyarakat juga dipengaruhi budaya politik lokal," kata pengamat LIPI, Situ Zuhro, kepada Okezone di Jakarta, Selasa (13/11/2012).
Dia memisalkan, di Pilgub DKI Jakarta tidak terlihat calon yang berasal dari kalangan artis, sedangkan di Jabar diramaikan oleh sejumlah artis. "Jakarta itu persoalannya kompleks, kita lihat tidak ada dari kalangan artis yang nyalon. Tapi kita lihat di Jabar saat ini, mungkin karena karakteristik masyarakat di sana masih mengidolakan para artis, dan siap memberi dukungan penuh," terangnya.
Meski demikian, artis yang diusung sebaiknya memiliki kemampuan dan pengalaman dalam memimpin. Karena pemilihan kepala daerah bukan lagi pertarungan antara-partai melainkan pertarungan figur yang maju. "Manajemen pengelolahan pemerintahkan tidak mudah," tuturnya.
Menurutnya, keberadaan artis di ranah politik sejauh ini belum terlihat memberikan prestasi, baik itu ditingkat lokal maupun nasional di DPR. "Sejauh ini juga belum terlihatkan daerah yang dipimpin artis memberikan prestasi. Tapi yang ada malah mengundurkan diri ketika menjabat, seperti Dicky Chandra yang mundur dari Wakil Bupati Garut," katanya.
Menyikapi wacana diusungnya Rhoma Irama pada Pilpres 2014 mendatang, dia menilai itu baru sekadar isu. Menurutnya, pilpres mendatang akan berlangsung sengit, karena tidak hanya dari figur formal partai, tapi juga kalangan masyarakat yang tak terlibat partai.
"Kayaknya di 2014 artis tidak deh. Jangan main-mainlah, kita sudah tiga kali pilpres, jadi yang keempat kali ini kita sudah punya gambaran yang lebih baik. Calonnya juga yang jelaslah," pungkasnya.
(Risna Nur Rahayu)