PEKANBARU - Saat ini sudah ratusan Gajah Sumatera (elephant maximus sumatranus) di Riau yang mati. Namun, ironisnya tidak satupun kasus diungkap oleh pihak berwajib sepeti Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) maupun pihak kepolisian.
Padahal, untuk melindungi populasi gajah, Pemerintah sudah menyediakan tempat pelestarian khusus untuk gajah di Riau. Seperti di Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT) Suaka Margasatwa Rimbang Baling, kawasan lindung Bukit Betabuh,Suaka Margasatwa Balai Raja dan lainnya.
Namun, ini ternyata tidak membuat hewan yang dilindungi aman. Malah, tempat mereka berlindung menjadi sasaran empuk para pemburu gajah yang mengambil gadingnya
World Wildlife Fund (WWF) mencatat, sejak 2004 sudah seratusan gajah Sumatera yang diketahui mati dengan tidak wajar. Ini belum termasuk gajah yang dibunuh, tetapi tidak diketahui rimbanya.
"Pembunuhan gajah di Riau terus terjadi akibat sangat lemahnya penegakan hukum. Sehingga tidak efek jera bagi pelaku pembunuh gajah," kata Humas WWF Riau, Syamsidar kepada Okezone Kamis (22/11/2012).
WWF mengaku sangat menyayangkan sikap aparat seperti BBKSDA dan kepolisian yang terkesan membiarkan pemusnahan gajah.
"Yang kita lihat, begitu ada gajah mati, ya hanya petugas terkesan hanya menjadi berita. Setelah itu ya tidak ada penindakan apapun. Jika memang petugas serius, pasti ada yang terungkap kasus pembunuhan atas gajah," tukasnya.
Jika ini terus dibiarkan terus terjadi, kata Syamsidar kepunahan Gajah Sumatera yang merupakan populasi gajah satu-satunya yang masih bertahan di Indonesia akan terjadi.
Sebelumnya, pihak Balai Taman Nasional Teso Nilo (TNTN) menyatakan bahwa untuk tahun 2012, sedikitnya 12 ekor gajah yang mati. Menurut Kepala Balai TNTN, kematian gajah di wilayahnya bukan hanya tugas TNTN, tetapi tugas BKSDA dan polisi kehutanan dan kepolisian. "Selama ini kesannya, kita berjalan sendiri untuk mengungkap kasus gajah" keluh Kupin.
(Misbahol Munir)