KAIRO – Presiden Mesir Mohammad Morsi, meminta warganya untuk menjaga ketenangan. Pernyataan tersebut keluar setelah bentrokan antara pihak oposisi dan aparat menyebabkan setidaknya tujuh orang tewas.
“Saya meminta warga untuk menghormati nilai-nilai revolusi dengan mengutarakan pendapatnya dengan cara damai dan menjauhi aksi kekerasan,” ujar Morsi dalam akun twitter miliknya, seperti dikutip AFP, Sabtu (26/12013).
Bentrokan berdarah itu sendiri terjadi di tengah-tengah peringatan dua tahun revolusi mesir yang merupakan bagian dari Arab Spring. Revolusi yang berhasil menjatuhkan diktator Mesir, Hosni Mubarak, dianggap pihak oposisi belum tuntas.
Pemerintahan Morsi dituduh pihak oposisi melenceng dari tujuan revolusi sebelumnya. Morsi dianggap gagal memberikan kebebasan, kesejahteraan, dan keadilan sosial bagi seluruh warga Mesir. Pemimpin oposisi pun mengajak pendukungnya untuk kembali melakukan aksi protes besar-besaran.
Kementerian Kesehatan Mesir menyatakan, enam warga tewas di wilayah Suez sedangkan satu lainnya tewas di wilayah Ismailiyah. Pihak aparat sendiri emnyebutkan sekitar 95 petugasnya mengalami luka-luka akibat bentrokan tersebut.
Kelompok Ikhwanul Muslimin yang saat ini berkuasa di Mesir menyatakan korban jiwa tidak hanya berasal dari pihak pemrotes namun juga dari aparat. Mereka pun berjanji akan mengadili pihak yang bertanggung jawab atas bentrokan tersebut.
Ikhwanul Muslimin sendiri menyatakan, pihaknya tidak akan menjalankan aksi tandingan sebagai respon terhadap aksi protes yang dilakukan oleh pihak oposisi. Kelompok tersebut lebih memilih untuk memperingati revolusi mesir dnegan acara sosial.
(Fajar Nugraha)