SOLO - Setelah terkatung-katung pembangunannya, karena mendapatkan pertentangan Joko Widodo, Wali Kota Solo saat itu, Gubernur Jawa Tengah, Bibit Waluyo, mengawali pembangunan Hotel Saripetojo, Solo.
“Kawasan Joglosemar (Jogja Solo Semarang) akan segera terwujud, yang ditunjang dengan keberadaan jalan tol Solo-Semarang selesai 2014, saat ini sudah sampai Ungaran dan Solo akan selesai 2014,” jelas Bibit Waluyo, saat memulai pembangunan hotel, di Solo, Sabtu (27/4/2013).
Kawasan bekas pabrik es Saripetojo tersebut awalnya akan dibangun mall oleh Perusahaan Daerah (PD) Citra Mandiri Jawa Tengah (CMJT). Namun, rencana itu tak mulus, karena diprotes warga Solo dan wali kota karena tempat tersebut dinilai sebagai kawasan cagar budaya.
“Bangunan yang menjadi cagar budaya tetap sebagai cagar budaya,” kata Bibit terkait pemanfaatan bangunan cagar budaya yang masih tersisa di lokasi tersebut.
Hotel Saripetojo dibangun di atas lahan seluas 1,3 hektare dengan luas bangunan 12.507 meter persegi. Sedangkan 500 meter persegi lainnya digunakan untuk apotek. Dari luas lahan yang dibangun, 59 persen untuk hotel dan ruang terbuka dan 41 persen untuk pertokoan bukan mall.
“Investasi hotel mencapai Rp175 miliar, dan dibangun 11 lantai dengan 120 kamar untuk lahan parkir mampu menampung 250 mobil dan 90 sepeda motor,” jelas Direktur PT CMJT, Sayuti.
Untuk melindungi pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan buah di sekitar kawasan Saripetojo, pihaknya akan menampung para pedagang tersebut. Sesuai kesepakatan dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Solo, pertokoan di Hotel Saripetojo tidak akan menjual sembilan bahan pokok dan buah-buahan.
Sementara itu, Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo, meminta pengelola merekrut pegawai sebanyak 80 persen dari lingkungan di sekitar hotel.
“Perekrutan pegawai harus diutamakan dari warga sekitar hotel dan sisanya harus diambil dari warga yang berasal dari seluruh kelurahan di Solo,” ujar Rudy.