Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Taman Warisan Jokowi Beralih Fungsi Jadi Tempat Mesum

Bramantyo , Jurnalis-Rabu, 04 Juni 2014 |07:30 WIB
Taman Warisan Jokowi Beralih Fungsi Jadi Tempat Mesum
A
A
A

SOLO - Taman Kota yang didirikan di era kepemimpinan Joko Widodo secara besar-besaran di Solo, Jawa Tengah, saat ini kondisinya memprihatinkan. Tak hanya terbengkalai, banyak taman kota yang beralih fungsi menjadi tempat esek-esek.
Salah satunya yaitu Taman Sekartaji yang ada di Daerah Mojosongo, Solo, Jawa Tengah. Saat ini kondisi taman yang sempat diprotes pihak Keraton, karena menggunakan nama Sekartaji yang merupakan salah satu tarian sakral Keraton Kasunanan ini, selain dijadikan tempat berhentinya bus antar kota antar provinsi juga banyak coret-coretan didinding taman.
 
Selain coretan pada dinding taman, lampu yang ada di taman itupun banyak yang rusak. Bahkan bolam lampu sudah tidak ada lagi. Sehingga pada malam hari, lokasi taman yang dekat dengan aliran sungai Kali Pepe ini,lebih banyak dijadikan lokasi prostisusi liar. Tak heran bila di Taman Sekartaji ini, banyak ditemukan alat kontrasepsi berserakan dimana-mana.
 
Saat dikonfirmasi, Kepala Dinas Pertamanan dan Kebersihan Pemkot Solo Hasta Gunawan mengatakan Taman Sekartaji yang saat ini terbengkalai dan berubah fungsi menjadi lokasi pemberhentian bus serta dipergunakan sebagai lokasi prostitusi dan arena pacaran tersebut, bukan berada di bawah naungan DKP. Namun berada di bawah pengelolaan Badan Lingkungan Hidup (BLH).
 
"Taman Sekartaji itu bukan berada dibawah DKP. Tapi berada di bawah BLH. Jadi itu bukan kewenangan kami kalau saat ini beralih fungsi,"jelas Hasta Gunawan kepada Okezone.
Namun Hasta tak menampik bila banyaknya taman kota yang terbengkalai. Seperti Taman Kota Gilingan misalnya. Hasta tidak mengelak kalau saat ini taman tersebut lebih condong banyak dipakai para gelandangan ini sebagai tempat tinggal.
 
Kurang terawatnya taman kota disebabkan minimnya tenaga yang dmiliki DKP. Apalagi 102 tenaga harian lepas yang dimiliki DKP sudah tidak lagi kontraknya diperpanjang. Praktis, saat ini tenaga harian lepas yang tersisa di DKP tinggal 119. Padahal di Kota Solo sendiri terdapat 152 titik taman di lima kecamatan yang harus mendapatkan perhatian. Sehingga dengan jumlah tenaga yang dimiliki, jelas tidak mungkin bisa menangani seluruh taman kota.
 
"Idealnya THL ada 400 orang untuk mengcover semua titik. Tapi mana mungkin bisa memenuhinya. Kalau anggaran yang dimiliki sangat minim,"ujarnya.
 
Menyangkut besaran dana yang seharusnya diterima DKP agar taman kota tidak terbengkalai, menurut Hasta, idealnya sebesar Rp1,5 Miliar. Dana sebesar tersebut tidak hanya untuk menyirami tanaman semata, namun pembayaran THL, biaya perawatan taman, hingga biaya pemeliharaan.
 
Agar taman kota tak beralih fungsi sebagai lokalisasi terselubung, Hasta berencana memasang lampu sorot dan lampu penerang taman.
 
"Kayak di Taman Sekartaji misalnya, biar pengelolaannya ada di BLH, kita akan pasang lampu sorot dari serbang sungai. Dan lampu penerang taman. Jadi biar terang dan tak beralih fungsi," pungkasnya.

(Muhammad Saifullah )

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement