JAKARTA - Direktur Lingkar Madani Indonesia (LIMA), Ray Rangkuti, mendukung langkah Badan Kehormatan (BK) DPR untuk mengumumkan daftar anggota parlemen yang sering tidak hadir dalam sidang paripurna. Ray menilai langkah ini bisa dijadikan bahan evaluasi fraksi.
"Tapi perlu diingatkan juga pada badan kehormatan, kalau melihat respons publik yang tiba-tiba antusias mendengar siapa saja yang ada dalam daftar. Ini bisa juga akan dijadikan sebagai alat permainan politik," kata Ray dalam diskusi Polemik Sindo Radio di Restoran Warung Daun, Cikini, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (18/5/2013).
Ray mengungkapkan, BK juga harus memiliki aturan main dan formula yang jelas dalam mengumumkan daftar kehadiran anggota DPR agar tidak sampai digunakan sebagai alat politik untuk saling menyerang.
"Data bisa diakses oleh publik. Artinya, nama yang ada dalam daftar harus membuat sendiri pembelaan. Misalnya bikin buku putih, buat buku kualitas mereka di DPR, tentang berapa kali absen dalam rapat RUU dan lain sebagainya. Ini lebih baik daripada marah-marah kepada BK," jelas Ray.
Ray juga menyarankan agar BK tidak hanya membuat daftar kehadiran, melainkan prestasi anggota parlemen. "Apa saja yang telah diciptakan DPR kepada masyarakat, sehingga masyarakat juga merasa diajak berdiskusi soal prestasi DPR," ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, anggota BK DPR RI, Ansori Siregar, menyatakan apa yang sudah terjadi, harus bisa memberikan pelajaran bagi anggota parlemen yang lain.
"Kita ambil hikmahnya sajalah. Mudah-mudahan lebih bisa hadir lagi, dan untuk yang tidak hadir, buat suratlah. Ini miris. kita sudah dipilih rakyat. Ini nanti bertolak belakang dengan saat sebelum pemilihan dimana menebar janji dan senyuman pada mereka, tapi setelah terpilih, janji dan senyuman itu hilang," pungkasnya.
(Dede Suryana)