JAKARTA - Dulu kita mengenal istilah alay untuk anak muda yang berpenampilan dan bertingkah berlebihan. Ada juga istilah jablay, untuk menyebut gadis muda yang perilakunya lekat dengan tindakan seksual. Sebelum jablay, kita mengenal gadis muda seperti itu dengan sebutan bispak, alias bisa dipakai.
Sekarang, ada lagi istilah baru, "cabe-cabean" dan "terong-terongan". Makna nama dua sayuran yang biasa kita santap ini sudah jauh berbeda dari arti sesungguhnya.
Cabe-cabean, menurut Kamus Slang, Jumat (27/12/2013) bermakna (1) Cewe Alay Umur Belasan; (2) Cewe murahan atau bisa di sebut jablay , jablay cilik; (3) serupa dengan teman tapi mesra (TTM). Kenyataannya, istilah cabe-cabean memang dekat dengan makna negatif.
Istilah ini melekat bagi anak baru gede (ABG) perempuan yang dapat dipakai untuk memuaskan nafsu seksual. Biasanya cabe-cabean dekat dunia balap liar dan menjadi bahan taruhan para pembalapnya. Dulu, kita juga mengenal istilah "cabo" untuk menerangkan fenomena tersebut.
Sementara terong-terongan merujuk kepada fenomena ABG laki-laki dengan dandanan metroseksual dan "gaul abis". Mereka biasanya nongkrong di mal atau restoran cepat saji sambil sibuk dengan gadget, sebagian juga bergaya keperempuan-perempuan alias ngondek. Bahkan, ada juga yang mengartikan terong-terongan sebagai ABG laki-laki penyuka sesama jenis.
Fenomena ini, kata Sekretaris Jenderal (Sekjen) Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Retno Listyarti, merupakan perkembangan negatif yang berakar dari kebutuhan anak muda dalam menunjukkan eksistensi dan mendapat pengakuan.
"Nampaknya mereka sedang mencari jati diri yang sebenarnya, namun tidak diberi ruang dan mungkin tidak mempunyai kemampuan yang lain. Serta, bisa jadi anak muda ini sebenarnya memiliki kemampuan tapi tidak diasah oleh mereka dalam sistem pendidikan, sehingga tidak bisa dikeluarkan," ujar Retno saat berbincang dengan Okezone, belum lama ini.
Menurut Ketua Umum Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Arist Merdeka Sirait, fenomena cabe-cabean dan terong-terongan sudah demikian parah. Bahkan, sudah terbentuk komunitas sendiri.
(Rifa Nadia Nurfuadah)