Asal Usul Mitos Jumat di Tanggal 13

, Jurnalis
Jum'at 13 Juni 2014 10:19 WIB
Mitos Friday the 13th dipercaya oleh warga AS dan Inggris. (Foto: hauntedamericatours)
Share :

JAKARTA - Istilah "Friday the 13th" atau yang dikenal dengan tanggal 13 di hari Jumat mempunyai makna tersendiri bagi warga di negara-negara Barat. Angka yang jatuh pada Jumat ini dianggap sebagai hari sial dan merupakan takhayul di negara Barat.

"Kesialan" ini dianggap terjadi ketika hari ke-13 setiap tahunnya dalam kalender Gregorian yang jatuh pada hari Jumat. Kepercayaan ini sebagian besar dianut oleh warga Amerika Serikat (AS) dan Inggris.

Bahkan, mereka yang mempercayai adanya kesialan di tanggal ini disebut dengan paraskavedekatriaphobia atau paraskevidekatriaphobia. Hal ini merupakan bentuk khusus dari triskaidekafobia, atau fobia (ketakutan) terhadap angka 13.

Melansir Today I Found Out, Jumat (13/6/2014), mereka yang percaya ini menjadi lebih waspada merupakan hal takhayul yang dianut oleh orang yang tidak berpendidikan, baik itu di dusun atau kota pinggiran.

Di AS saja, diperkirakan sebanyak 17-21 juta orang takut dengan tanggal ini, di mana mereka bahkan bisa diklasifikasikan sebagai fobia. Lalu, mengapa angka ini dianggap sebagai hari yang sial bagi sebagian orang?

Awal mulanya, seperti diketahui 13 dinilai sebagai angka sial. Begitu pula dengan Jumat di pekan kedua dalam satu bulan. Sekira akhir abad ke-19, banyak bermunculan orang-orang yang merasa mengalami kesialan ketika hari dan tanggal ini bertemu.

Teori awal yang paling populer mengapa Jumat dianggap hari sial atau jahat muncul dari warga Kristen. Menurut tradisi, Jumat dianggap sebagai hari di mana Hawa memberi Adam sebuah apel dan mereka diusir dari Taman Eden.

Namun, teori lainnya mengatakan, Jumat dipilih sebagai hari untuk menghormati dewi Norse Frigg, juga dikenal sebagai Freyja, yang merupakan dewi multitalenta akan cinta, keindahan, kebijaksanaan, perang, kematian, dan sihir. Orang Teutonik diperkirakan telah menganggap Jumat sebagai hari yang sangat beruntung, terutama untuk pernikahan, sebagian karena nama sang dewi itu.

Apapun masalahnya, meskipun teori-teori tersebut telah muncul beratus-ratus tahun lalu, Jumat secara populer dianggap sebagai hari sial tampaknya tidak populer sampai sekira pertengahan abad ke-17. Dalam dua abad berikutnya setelah itu, anggapan ini terus menyebar dan pada abad ke-19 dalam budaya tertentu menganggap Jumat tanggal 13 merupakan hari sial. Percayakah Anda?

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya