Wido menilai, wajar jika buruh memiliki barang mewah seperti itu karena sebagian besar mereka memiliki kerja sampingan, begitupun istri ataupun suaminya. Belum lagi jika harta tersebut diperoleh dari warisan orangtua. Wido mencontohkan, istri para buruh juga banyak yang memilih berdagang atau berjualan kue subuh.
“Saya pribadi harus berjuang di luar pekerjaan saya, cari sampingan usaha lain, ngojek. Saya harus kerja ngelas lagi, di luar jam kerja yang ditentukan. Tak dipungkiri teman-teman yang lain secara umum tak cukup untuk kebutuhan hidup, apalagi yang punya keluarga. Buruh yang lajang enggak begitu masalah, wajar dong soal Ninja,” tuturnya.
Menurut Wido, masalah Ninja atau barang mewah lainnya hanya sebagian kecil yang terekspos. Ia meminta media massa langsung mengecek kondisi nyata kehidupan buruh satu persatu.
“Enggak seberapa, boleh dicek mayoritas enggak punya rumah. Dari kami tak ingin seperti pemerintah berpura-pura miskin, contoh itu Jokowi ngomong sepatunya Rp100 ribu dan baju Rp100 ribu tapi anaknya kuliah di Singapura. Mendingan apa yang ada memang ada jangan munafik,” ketusnya.
(Kemas Irawan Nurrachman)