Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Edhy Prabowo, turut menyayangkan kejadian ini. Edhy berharap keberadaan pesawat milik pengusaha Toni Fernandes ini dapat segera diketahui keberadaannya. Edhy enggan berspekulasi lebih jauh perihal kasus ini.
"Kita semua harus menahan diri. Saat ini pemerintah melalui Kemenhub, Basarnas dan TNI tengah berusaha maksimal mencari keberadaan pesawat. Saya berharap secepatnya tim pencari dapat menemukan keberadaannya. Saya juga meminta kepada kepala daerah di sekitar lokasi kejadian agar terus membantu tim di lapangan,” ujar Edhy dalam keterangannya, Senin (29/12/2014).
Edhy berharap, masyarakat tidak berspekulasi atau menganalisa yang tidak-tidak atas kejadian ini. “Saya lihat di media sosial banyak yang mendoakan kejadian ini, tapi ada juga segelintir orang yang justru menjadikan peristiwa ini sebagai bahan candaan. Ini sangat tidak baik dan sangat disesali,” tandasnya.
Edhy yang juga menjabat sebagai Ketua Komisi IV ini berharap, peristiwa serupa tidak terjadi lagi kedepannya. Apa yang pernah dialami oleh Adam Air pada tahun 2007 lalu dan AirAsia pada saat ini dapat menjadi pelajaran penting bagi penggelut bisnis maskapai.
"Semoga kejadian ini membawa hikmah dan dapat dijadikan pelajaran penting bagi bisnis maskapai agar kedepan bisa lebih mengedepankan safety,” tuntasnya.
Sebagaimana ramai diberitakan, pesawat AirAsia QZ 8501 yang lepas landas dari Bandara Juanda Surabaya sekira pukul 05.20 WIB menuju Bandara Changi Singapura, mendadak hilang dari pantauan radar pada pukul 06.18 WIB.
Pesawat ini membawa sebanyak 155 penumpang yang terdiri dari 143 penumpang dewasa, 11 anak-anak dan seorang balita. Pesawat ini juga membawa tujuh kru yang terdiri dari seorang pilot (Irianto), seorang co pilot (Remi Imanuel Plesel), empat pramugari/a (Wanti Setiawati, Khairunissa Haidar Fauzi, Oscar Desano dan Wismoyo Ari Pambudi), serta seorang teknisi bernama Saiful Rakhmad.
(TB Ardi Januar)