DAMASKUS - Salah seorang korban kekerasan dan pelecehan seksual anggota kelompok militan ISIS dipaksa menjalani operasi keperawanan setiap akan menikahi anggota ISIS. Berdasarkan laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), hingga kini perempuan itu sudah menjalani 20 operasi keperawanan.
Wakil Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Kekerasan Seksual di Daerah Konflik, Zainab Bangura, mengungkapkan fakta ini setelah mewawancarai belasan korban seksual di wilayah kekuasaan ISIS. Bangura mengatakan, kekerasan seksual yang dilakukan ISIS bersifat terencana, menyebar, dan sistematis.
"ISIS mempraktikkan kekerasan seksual dan menjadikan kekerasan terhadap perempuan sebagai aspek utama dari ideologi dan operasi mereka. ISIS menggunakan hal ini sebagai taktik terorisme untuk memperluas sasaran strategis utama mereka," kata Bangura, seperti dikutip dari The Independent, Senin (11/5/2015).
Laporan tersebut mengungkapkan, pada Februari lalu anggota ISIS yang berjuang di Suriah mencari tenaga medis untuk membantu mereka. Beberapa korban selamat menuturkan, anak-anak perempuan berusia sekira lima tahun diculik dari rumah-rumah. Para korban dipaksa untuk menjalani operasi keperawanan dengan prosedur anestesi lokal.
Sementara itu, organisasi kemanusiaan Human Rights Watch telah mendesak Pemerintah Kurdi dan Irak untuk menyediakan perawatan psikososial jangka panjang bagi para korban. Organisasi ini juga menyadari bahwa operasi keperawanan hanyalah pemulihan sementara bagi trauma yang mereka alami.
(Pamela Sarnia)