”Meskipun kepentingan internasional baru dalam memprioritaskan peluncuran senjata nuklir, program modernisasi senjata nuklir berlangsung di negara-negara itu. Yang menunjukkan bahwa tidak satupun dari mereka akan menyerah untuk menyediakan persenjataan nuklir di masa mendatang,” kata Shannon Kile, seorang peneliti senior di SIPRI, dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip IB Times.
Menurut laporan SIPRI, meskipun AS dan Rusia terus mengurangi persenjataan nuklir mereka, kedua negara itu sejatinya juga bekerja pada program modernisasi (senjata nuklir) jangka panjang yang luas dan mahal.
”Dalam kasus China, ini mungkin melibatkan sedikit peningkatan dalam ukuran arsenal nuklirnya,” bunyi laporan SIPRI. ”India dan Pakistan sama-sama memperluas kemampuan produksi senjata nuklir mereka dan mengembangkan sistem pengiriman rudal baru.”
Sementara itu, Korea Utara diyakini mengembangkan senjata nuklirnya dari enam sampai delapan hulu ledak. Tapi, SIPRI mengakui sulit untuk menilai kemajuan teknis pengembangan senjata nuklir rezim Pyongyang itu.
(Pamela Sarnia)