Muktamar NU dan Islam Nusantara

, Jurnalis
Jum'at 31 Juli 2015 15:03 WIB
(Foto: Antara)
Share :

Jelas dan persis di situ. NU itu kan kekuatan masyarakat sipil yang salah satu amanahnya adalah menjaga keutuhan bangsa ini. Ambil contoh, sejak terpilih menjadi ketua umum di Muktamar Situbondo, Gus Dur mampu dan terus-menerus “membumikan langit” atau memanusiakan nilai-nilai Allah, dan menggabungkan antara teologi dan kosmologi. Itu jasa yang sangat besar sekali. Saya lanjut mengawal itu. Kalau soal politik praktis, saya sangat menjauhi dan sebagai Ketua Umum, NU tidak saya arahkan ke sana. Kalau politik kebangsaan, iya.

Menjelang Muktamar di Jombang, berbagai kabar miring menerpa anda. Bagaimana anda menanggapinya?

Misalnya anda dikabarkan memberangkatkan banyak mahasiswa ke Iran. Itu jelas fitnah. Saya biarkan, tidak saya respons. Tuduhan syiah kepada saya kan lagu lama yang diulang-ulang terus. Kalau ada yang nuduh saya syiah, orang syiah sendiri malah ketawa. Bahwa saya pernah menghadiri sebuah undangan ceramah di Surabaya tahun 2004 saat Ibu Megawati menjadi presiden, ya masak diundang tidak datang. Kalau pidato saya tidak dipotong-potong, orang akan paham. Dan itu kan menjelang muktamar ke Makassar.

Saya di PBNU sudah 20 tahun, dan hingga kini masih diterima. Kalau saya syiah, pasti Kiai Sahal Mahfudh atau Kiai Mustofa Bisri menendang saya dari PBNU jauh-jauh hari. Terakhir, tidak sedikit yang menilai anda pantas menjabat Rais ‘Aam, posisi tertinggi di NU? Enggak...enggak (menggeleng).

Rais ‘Am itu syaratnya harus afqahul fuqaha (Ulama paling alim), sementara saya bukan. Selain itu, harus wara’ atau wira’i, sementara kelakuan saya masih jauh dari itu, masih belepotan. Saya masih jauh di bawah Kiai Ahmad Mustofa Bisri, Kiai Maimun Zubair, Kiai Ma’ruf Amin, Kiai Tolchah Hasan, dan sebagainya. Rois ‘Am bukan maqam saya. Walaupun ada yang mengusulkan, saya akan jadi yang pertama menolaknya. Tiap muktamar memang punya dinamika sendiri. Biasa kalau agak tegang, nanti juga reda. Lebih-lebih, Muktamar kali ini bertempat di Jombang. Ini tempat keramat. Semua pendiri NU ada di sini dan menyaksikan. Saya yakin, mereka yang berniat mencelakakan NU, akan celaka sendiri.

(Muhammad Saifullah )

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya