Sepanjang 1-5 Agustus 2015, Nahdlatul Ulama menggelar perhelatan Muktamar di Jombang, Jawa Timur. Muktamar ke-33 ini mengusung tema Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia. Kepada Okezone, Said Aqil Siroj menuturkan relevansi tema ini dalam konteks global dan nasional. Ia juga menuturkan banyak hal terkait kepemimpinannya dalam lima tahun terakhir.
Sebentar lagi, masa jabatan Anda sebagai Ketua Umum PBNU berakhir. Bagaimana perasaan Kiai?
Alhamdulillah, selama ini saya dan seluruh pengurus PBNU mampu dan berhasil melaksanakan amanat Muktamar Makassar, walaupun tentu di sana-sini banyak kekurangan. Beberapa amanat tidak berhasil dirampungkan karena memang berat dan sulit. Contohnya seperti agenda mengembalikan dan memperjelas status hukum aset-aset NU. Aset yang kecil-kecil memang sudah bisa kembali, tapi tanah yang berhektar-hektar masih belum. Terus terang saja.
Anda mencontohkan kekurangan?
Karena lebih banyak yang berhasil. Secara umum memang PBNU berhasil mengemban amanat Muktamar Makassar. Penting saya tekankan dan tegaskan, yang bisa disebut keberhasilan itu adalah keberhasilan seluruh pengurus PBNU, bukan hanya saya lho.
Keberhasilan lain yang bisa Anda contohkan?
Saya bersyukur, semua Lembaga, Lajnah, dan Badan Otonom periode kali ini berperan aktif. Beberapa di antaranya, misal Lembaga Takmir Masjid (LTM), yang dulunya belum pernah aktif, sekarang sangat aktif. LTM terus terjun ke bawah menyelamatkan masjid dari gerakan-gerakan wahabi-salafi. Setiap tahun, LTM mengadakan mudik gratis. Ramadhan kemarin, saya melepas rombongan 33 bus. Lembaga Kesehatan mengelola program kemitraan dengan global finance, mengelola pendanaan 128 miliar, dengan nilai A+.