1 Oktober: Elegi Jenderal Yani

Randy Wirayudha, Jurnalis
Kamis 01 Oktober 2015 07:47 WIB
Amelia Yani bercerita mengenang sang ayah, Jenderal Ahmad Yani (Foto: Randy Wirayudha)
Share :

Lalu apa arti tubuh yang hancur dan bersatu dengan tanah ini? Semua musuh negara kutumpas. DI/TII, PRRI, Permesta, Perjuangan Trikora. Perintah Bung Karno, sebelum ayam berkokok 1 Jaanuri 1963, Irian Barat harus kembali ke pangkuan ibu pertiwi. Kemudian Dwikora, Ganyang Malaysia. Semua tugas aku laksanakan dengan semangat yang menyala-nyala.

Adakah arti dari pengabidan dan andilku dalam menegakkan Pancasila yg berketuhanan Yang Maha Esa, yang berperikemanusiaan, yang berdaulat dan bermartabat, telah dirusak oleh orang-orang yang haus akan kekuasaan. Tetapi aku tetap terdepan, benteng ibu pertiwi, tak pernah mundur sejengkal pun. Tidak pernah ragu, mati-matian aku pertahankan negeri tercinta ini.

Kini anakku, aku sudah bersatu dengan Sang Khalik. Aku sudah berdamai dengan waktuku. Tapi aku bersedih dan menangis ketika negeri ini digerogoti oleh koruptor dan pengkhianat-pengkhianat yang menghalalkan segala cara. Sebagai prajurit TNI yang pantang menyerah, aku hanya bisa mewariskan setiap tetes darahku sebagai semangat perjuangan untuk kehormatan bangsa.

“Itu suara yang saya dengar. Padahal banyak orang ketika itu. Ada perasaan yang bergelora terus. Saya sempat nangis. Saya ambil kertas, saya tulis. Jadilah ini puisi satu-satunya,” ungkap Amelia Yani kepada Okezone.

(Randy Wirayudha)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya