Piagam Yogya & Pelantikan KSAD Diiringi Indonesia Raya dari Damkar

Randy Wirayudha, Jurnalis
Sabtu 17 Oktober 2015 08:17 WIB
Abdoel Haris Nasution yang kembali diangkat KSAD dengan pangkat Jenderal Mayor pasca-peristiwa 17 Oktober 1952 (Foto: Wikipedia)
Share :

Guna meredam friksi berkelanjutan, Nasution kemudian memaparkan konsep “Front Lebar” atau “Jalan Tengah”. Inti dari konsep itu adalah TNI takkan berusaha mengambil kekuasaan, namun akan tetap berpartisipasi dalam pengambilan keputusan pada semua tingkatan.

“Kita tidak menginginkan dan kita tidak akan menjiplak situasi di beberapa negara Amerika Latin, di mana tentara bertindak sebagai satu kekuatan politik langsung,” cetus Nasution pada suatu kesempatan di hadapan taruna Akademi Militer Nasional (AMN) di Magelang, Jawa Tengah, medio Desember 1958

“Demikian pula, kita tidak akan meniru model Eropa Barat, di mana tentara merupakan alat mati dari pemerintah, atau contoh dari Eropa Timur,” lanjut Nasution.

Baik Soekarno maupun Nasution, berangsur mulai menyadari kepentingan masing-masing secara “lebih akur”. Soekarno menyadari bahwa yang mampu mencegah kesatuan RI terpecah adalah tentara.

Di sisi lain, keinginan Nasution pada 17 Oktober 1952 sebelumnya pun akhirnya “terlaksana” pada 1959, di mana Soekarno melahirkan Dekrit 5 Juli 1959, di mana parlemen dibubarkan, menyusul dijalankannya sistem Demokrasi Terpimpin.

(Randy Wirayudha)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya