PADA Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G-20 di Antalya, Turki, Presiden Rusia Vladimir Putin mengungkapkan sumber dana Daesh, sebutan lain bagi kelompok militan ISIS, berasal dari 40 negara, termasuk beberapa negara anggota G-20. Meskipun Putin tidak menyebutkan negara mana saja sumber dana ISIS itu berasal, Turki diduga merupakan salah satunya.
Dugaan itu berawal dari pernyataan seorang pejabat partai oposisi Turki, Gursel Tekin beberapa bulan lalu terkait dengan putra Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan yang bernama Necmettin Bilal Erdogan yang dituduh menyelundupkan minyak mentah curian ISIS dari Irak ke Asia.
Bukanlah sebuah rahasia bahwa sumber pemasukan utama ISIS berasal dari penjualan minyak bumi mentah.
ISIS diyakini memiliki kendali produksi atas lebih dari 30 ribu barel minyak mentah per hari di Irak dan 50 ribu barel per hari di Suriah. Dari sana, ISIS diperkirakan menghasilkan sedikitnya USD3,2 juta dolar atau sekira Rp43 miliar per hari dengan menjual minyak bumi mereka jauh di bawah harga minyak dunia.
Bilal yang memiliki beberapa perusahaan transportasi laut, diduga telah menandatangani kontrak dengan beberapa perusahaan Eropa untuk membawa minyak yang dicuri dari Irak ke beberapa negara di Asia. Perusahaan Bilal dilaporkan memiliki dermaga-dermaga khusus di Beirut, Lebanon dan Ceyhan, Turki untuk menyelundupkan minyak-minyak mentah dengan kapal tanker ke Jepang.
“Presiden Erdogan mengklaim bahwa menurut konvensi transportasi internasional tidak ada pelanggaran mengenai kegiatan ilegal Bilal dan anaknya melakukan bisnis biasa dengan perusahaan Jepang yang terdaftar,” kata Tekin, sebagaimana dilansir dari New Eastern Look, Minggu (22/11/2015).
“Tapi faktanya Bilal Erdogan terlibat dengan terorisme. Namun, selama ayahnya memegang kekuasaan dia akan kebal terhadap semua terhadap semua tuntutan yudisial,” lanjut anggota Partai Rakyat Republik Turki (Republican People Party/CHP) itu.
Anak ketiga Erdogan itu sebelumnya pernah tersangkut skandal kasus korupsi di Turki pada 2013. Dia diketahui memiliki hubungan dengan Yasin al Qadi, seorang pengusaha Arab Saudi yang menurut daftar milik otoritas Amerika Serikat (AS) merupakan pendukung Al Qaeda.
Tekin menambahkan bahwa perusahaan Bilal yang dia sebut melakukan perdagangan dengan ISIS BMZ, merupakan perusahaan keluarga Erdogan.
“Presiden Erdogan dan beberapa kerabat dekatnya memiliki saham di BMZ dan mereka menyalahgunakan dana publik serta mengambil pinjaman ilegal dari bank-bank di Turki,” tuduh Tekin.
Selain tuduhan terhadap Bilal, anak Erdogan lainnya Sumeyye Erdogan dituduh membantu ISIS dengan membuka sebuah rumah sakit militer rahasia di Sanliurfa, tidak jauh dari perbatasan dengan Suriah yang memberikan perawatan intensif bagi para militan yang terluka.
Seorang perawat yang pernah bekerja di sana mengungkapkan bahwa setiap harinya truk tentara Turki datang membawa sejumlah militan yang terluka untuk dirawat dan dikirim kembali ke medan perang di Suriah.
Erdogan sendiri menolak semua tuduhan tersebut, dan menyatakan bahwa semua itu hanyalah permainan politik belaka. Bilal Erdogan saat ini dilaporkan tengah berada di luar negeri dia dituduh tengah menghindari pemeriksaan atas skandal korupsi yang terungkap pada akhir tahun 2013 lalu.
(Rahman Asmardika)