SEOUL – Setelah beberapa dekade berseteru soal jugun ianfu atau “wanita penghibur” di era Perang Pasifik (Perang Dunia II di Asia Timur), Jepang dan Korea Selatan (Korsel) menyepakati penyelesaian isu tersebut.
Sekira tujuh dekade silam, tercatat lebih dari 200 ribu wanita Korea – sebagaimana di China hingga Indonesia, diculik paksa untuk dijadikan jugun ianfu di sejumlah rumah bordil militer Jepang.
Terkait hal ini, Menteri Luar Negeri (Menlu) Jepang, Fumio Kishida dan Menlu Korsel, Yung Byung-se, saling bertemu untuk mewakili Perdana Menteri (PM) Jepang, Shinzo Abe dan Presiden Korsel, Park Geun-hye.
Usai pertemuan dengan Menlu Korsel, Kishida dalam keterangan pers-nya, menyatakan penyesalan mendalam terkait isu jugun ianfu dan pemerintah Jepang bertanggung jawab penuh atas kasus kemanusiaan tersebut.
Kishida juga menjanjikan bahwa pemerintah Jepang, akan memberi kontribusi secara materi kepada sebuah yayasan resmi pemerintah Korsel, yang mengurus persoalan para korban jugun ianfu.
“PM Abe sekali lagi mengekspresikan permintaan maaf terdalam kepada semua korban (jugun ianfu) yang mengalami penderitaan baik secara psikis maupun fisik,” ungkap Kishida,” disitat ITV, Senin (28/12/2015).