MEDAN - Salah seorang mantan anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar), Nasib (55), warga Medan, mengungkapkan kisah selama dirinya mengikuti organisasi itu tiga tahun lalu.
Awalnya ia sempat menolak untuk diwawancarai mengenai organisasi sesat tersebut. Namun akhirnya, hatinya tergerak untuk membeberkan kegiatan yang pernah diikutinya selama beberapa bulan. Agar kisah yang belum terungkap ini bisa menjadi bahan pembelajaran bagi masyarakat.
Ia merupakan abang ipar dari anggota Gafatar yang ikut pergi ke Pulau Kalimantan, Senan (45). "Tiga tahun yang lalu aku pernah ikut. Yang mengajak saya, Senan. awalnya dia bilang gabung saja ke sini, pengajian kami bagus,” ujar warga Jalan Pringgan, Desa Helvetia, Kecamatan Sunggal itu.
Pada hari pertama bergabung, Nasib langsung dibaiat oleh petinggi Gafatar. Alasannya untuk meng-Islam-kan kembali diri Nasib. Akan tetapi bukan dengan mengucapkan dua kalimat syahadat seperti biasanya.
"Ada orang yang kami bilang ustad, saya lupa namanya. Saya disuruh jabat tangan, lalu disuruh ikuti semacam dua kalimat syahadat tetapi bukan seperti dua kalimat syahadat bunyinya. Katanya supaya sah masuk sebagai anggota mereka," tutur pria yang memiliki tiga orang anak ini.
Setelah mengikuti persyaratan itu, hari-hari berikutnya ia pun mulai didoktrin mengenai hijrah, "Dibilang kita harus hijrah dan setiap usaha itu ada pengorbanannya," katanya lagi.
Dalam perjumpaan antar anggota Gafatar, ia diajarkan Alquran yang tidak bertuliskan bahasa Arab, tetapi bahasa Indonesia, "Setiap kami mengaji dulu, dikasih kayak Alquran tapi enggak ada bahasa Arabnya, cuma bahasa Indonesia," sebut Nasib.
Pria yang berprofesi sebagai penjual kue ini, selama dua bulan mengikuti ajaran Gafatar selalu dikritik istrinya. "Istri juga sering protes, katanya sudah enggak betul lagi itu ajaran yang aku lakukan," tambahnya.
Nasib juga menceritakan ketika kedatangan anggota Gafatar ke rumahnya. Ketika sang istri, Sami, membuatkan teh, tidak ada satupun yang meminum teh itu.
"Memang enggak boleh. Kalau yang buat orang Gafatar, baru boleh diminum," ucap Nasib yang menjelaskan istrinya tidak ikut masuk Gafatar.
Selain itu, banyak juga pantangan yang diterapkan organisasi Gafatar kepada anggota. Seperti tidak boleh memakan yang tidak dimasak oleh anggotanya. Organisasi itu juga menyuruh anggota untuk sekali memakan nasi yaitu pada siang hari, dan pada pagi hari serta malam hanya mengonsumsi ubi kayu yang direbus.
(Abu Sahma Pane)