Pakistan dan Nama Besar Soekarno

Randy Wirayudha, Jurnalis
Jum'at 19 Februari 2016 07:10 WIB
Ilustrasi (Foto: muslim-institute.org)
Share :

DI ANTARA negara-negara asing yang menaruh hormat pada “bung besar” Soekarno, Pakistan merupakan salah satunya. Nama besar Presiden RI pertama sekaligus salah satu proklamator itu begitu dihargai, hingga namanya diabadikan di dua tempat pada dua kota di Pakistan.

Mungkin banyak yang tidak tahu bahwa di Pakistan, terdapat nama area Soekarno Square Khyber Bazar (kini Soekarno Chowk) di Kota Peshawar dan Soekarno Bazar di Kota Lahore.

Menarik benang sejarah, “persahabatan” Pakistan, Soekarno dan Indonesia tak lain karena terbalut rasa simpati sesama negara mayoritas muslim dan sesama bangsa terjajah di masa revolusi fisik Indonesia, 1945-1949.

Banyak dari personel tentara sekutu yang dikirim ke Indonesia pasca-Perang Dunia II, berasal dari Pakistan (yang sebelum 1947 masih bagian dari India). Salah satu bentuk rasa simpatinya, ratusan tentara asal Pakistan itu menolak bertempur melawan kombatan Indonesia, hingga desersi.

“Zaman awal perang kemerdekaan, kan ada desersi 500-600 pasukan sekutu asal Pakistan. Membalas jasa mereka, pada 90an mereka diberikan medali gerilya oleh pemerintah Indonesia,” ungkap penggiat sejarah, Wahyu Bowo Laksono kepada Okezone.

Salah dari tentara sekutu asal Pakistan yang sempat menolak bertempur itu adalah Presiden keenam Pakistan, Muhammad Zia-ul-Haq. Dia pernah bertugas di Surabaya pada akhir 1945.

Ketika menjadi presiden dan berkunjung ke Indonesia, Zia-ul-Haq pernah mengajukan permintaan pada Presiden RI kedua, Soeharto, untuk memperpanjang masa lawatan demi menyambangi Kota Surabaya untuk “bernostalgia”.

Selain India, Pakistan juga paling gencar menyokong dan melantangkan pengakuan terhadap kemerdekaan RI. Salah satu bentuknya adalah ketika Gubernur Jenderal Pakistan, Muhammad Ali Jinnah, memboikot pesawat-pesawat Belanda yang hendak traksit di Pakistan.

“Tahun 1947, Ali Jinnah melarang terbang atau mendaratnya pesawat Belanda, maupun armadanya di Pakistan, ketika sedang menghimpun kekuatan untuk persiapan agresi militer (Clash I – Operatie Product, 27 Juli 1947) di Indonesia,” lanjutnya.

Pasca-perang, Presiden Soekarno pun melakukan “safari” perdananya ke sejumlah negara sahabat, negara-negara pertama yang mengakui kedaulatan RI, seperti India, Myanmar dan termasuk Pakistan pada medio Januari 1950.

Kedatangan Soekarno disambut langsung dengan hangat oleh Presiden Pakistan pertama, Iskandar Ali Mirza. Dalam kunjungannya, Soekarno juga menyempatkan diri mendatangi dan salat di tempat sembahyang bersejarah – Masjid Badshahi di Lahore.

Indonesia atas perintah Soekarno, juga memainkan peranan penting dengan mengirim kapal-kapal perang ke perairan Kepulauan Andaman dan Nikobar, ketika pecah Perang India-Pakistan yang kedua pada Agustus 1965.

Kala itu, Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Pakistan, Marsekal Asghar Khan setelah “bersafari” pula ke Turki, Iran dan China, turut mendatangi Presiden Soekarno dan Menteri Panglima Angkatan Laut (Menpangal) RI, Laksamana Raden Eddy Martadinata untuk membicarakan situasi konflik.

“Indonesia membantu mengirim beberapa KRI TNI AL untuk turut mengamankan perairan di sana. Berperan sebagai pasukan penyangga yang statusnya netral,” sambung Wahyu.

“Tentunya (pengiriman KRI) itu sebagai pemantau untuk percepatan gencatan senjata senjata. Indonesia dipandang sebagai negara yang punya hubungan baik dengan kedua negara (Pakistan-India),” tandasnya.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya