GENCAR berkonfrontasi dengan Belanda kala berupaya merebut Irian Barat pada medio 1960an, Indonesia membutuhkan sejumlah alat utama sistem pertahanan (alutsista) baru dengan berbagai negara Eropa sebagai destinasi pembelian alutsista, termasuk Uni Soviet.
Presiden RI pertama, Ir. Soekarno pun segera “menitahkan” Menteri Pertahanan dan Keamanan (Menhankam) merangkap Menteri Panglima Angkatan Darat/Kepala Staf Angkatan Darat (Menpangad/KASAD), Jenderal (TNI) Abdul Haris Nasution dengan sebuah misi – “Misi Nasution”.
Destinasi pertama sosok yang dikenal dengan sebutan “Pak Nas” itu tak lain adalah Amerika Serikat (AS). Namun lantaran tidak harmonisnya Presiden AS, Dwight "Ike" Eisenhower dengan Soekarno pada saat itu, membuat AS enggan menjual alutsista pada Indonesia.
Gagal bernegosiasi dengan Negeri Paman Sam, Pak Nas pun mengalihkan tujuannya ke Uni Soviet. Berangkat ke Moskva pada 28 Desember 1960, Pak Nas langsung disambut Menhan Soviet, Marsekal Udara Rodion Malinovsky.
Awalnya, pertemuan Pak Nas dengan Malinovsky sempat terusik pertanyaan sang Marsekal, soal benar atau tidaknya Pak Nas merupakan sahabat AS, musuh bebuyutan Soviet di era Perang Dingin.
“Saya dengar Anda adalah sahabat Amerika,” cetus Malinovsky dalam buku ‘Sahabat Lama, Era Baru: 60 Tahun Pasang Surut Hubungan Indonesia-Rusia’.
Sontak, Pak Nas menjawab,: “Kami berusaha bersahabat dengan semua bangsa, termasuk Soviet. Apalagi sama-sama berpendirian politik anti-kolonialisme,”.
Mendengar penjelasan diplomatis Pak Nas, relasi keduanya pun mencair dan berujung persahabatan secara pribadi. Di sisi lain, kunjungan Pak Nas pun tak sia-sia, lantaran kontrak sebesar USD500 juta sukses diresmikan untuk membeli sejumlah alutsista, di antaranya 12 kapal selam dan pesawat-pesawat tempur MiG-21.
Misi Jenderal Yani ke Eropa Timur, Jerman Barat & Inggris
Misi pembelian alutsista tak hanya diemban Pak Nas. Deputi Menpangad/KASAD, Letjen TNI Ahmad Yani pun ikut “bertualang” hingga ke negara-negara Eropa Timur, Jerman Barat, hingga ke Inggris.
Tujuan Jenderal Yani dalam misinya ini diawali kunjungan ke Yugoslavia (kini pecah menjadi Kroasia, Serbia, Bosnia-Herzegovina, Montenegro, Slovenia, dan Makedonia) dengan ditemani Direktur Djawatan Peralatan Angkatan Darat (kini Palad) Kolonel Moch. Rivai dan Kolonel Kusumo dari Perindustrian Angkatan Darat (Pindad).
Selain Yugoslavia, Polandia dan Cekoslovakia (kini pecah menjadi Republik Ceko dan Slovakia), di mana Jenderal Yani sempat tertarik pada sebuah alutsista roket kaliber 130 milimeter (mm) yang kemudian dibelinya meski tak ada dalam “daftar belanjanya”.
“Pada waktu itu, roket kaliber 130 mm belum dikenal di Indonesia. Roket itu mampu menembakkan 32 peluru sekaligus. Daya rusaknya sangat ampuh,” tulis Amelia Yani, salah satu putri Jenderal Yani dalam biografi ‘Profil Seorang Prajurit TNI’.
“Agaknya roket itu belum ada dalam daftar yang dibawa dan bapak (Jenderal Yani) tanpa menunggu instruksi dari Jakarta, memutuskan untuk membelinya,” sambung Amelia Yani dalam buku tersebut.
Jerman Barat kemudian jadi destinasi berikutnya yang turut didampingi Pak Nas langsung, Brigjen Soeharto, serta atase militer Indonesia di Bonn, Jerman Barat, Kolonel Donald Isaac (DI) Pandjaitan.
Hubungan baik Kolonel DI Pandjaitan dengan otoritas militer Jerman Barat, turut berperan serta dalam pertemuan langsung Jenderal Nasution dengan Kanselir merangkap Menhan Jerman Barat kala itu, Franz Josef Strauss.
Kedekatan hubungan Kolonel Pandjaitan itu juga mencairkan suasana yang serius antara petinggi militer dua negara itu, hingga meyakinkan kesediaan Jerman Barat sebagai salah satu anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), untuk menjual alutsista kepada Indonesia yang tengah berseteru dengan anggota NATO lainnya, Belanda.
“Memang Jerman Barat anggota NATO. Indonesia bukan anggota NATO. Karena itu, Jerman Barat bebas menjual persenjataannya tanpa berbicara lebih dulu dengan anggota lain (Belanda),” ungkap Strauss dalam biografi ‘D. I. Pandjaitan: Gugur Dalam Seragam Kebesaran’.
Sementara perjalanan “Misi Yani” di Inggris, juga membuahkan hasil dengan peresmian penandatanganan kontrak sejumlah alutsista, termasuk kendaraan tempur (ranpur) lapis baja Alvis Saladin FV601 dan Alvis Saracen FV603.
Alvis Saracen FV603, Ranpur Pengusung Tujuh Jenderal
Ironisnya, Alvis Saracen yang merupakan ranpur angkut personel beroda enam itu bukannya terlibat dalam pertempuran gemilang, namun justru catatan duka mendalam, tak hanya buat TNI, tapi juga segenap individu yang mengaku setia pada Pancasila.
Sekilas mengulas ranpur buatan Alvis Car and Engineering Company tersebut, punya jarak operasional 400 kilometer tanpa mengisi bahan bakar lagi dengan dipersenjatai dua senapan mesin Bren Gun dan M1919 Browning kaliber 30 mm.
Ranpur berbobot 11 ton dengan panjang 4,8 meter serta lebar 2,54 meter ini, diperuntukkan guna membawa (maksimal) sembilan personel plus dua kru pengemudi.
Ranpur ini juga punya kemampuan “berlari” hingga 72 km per jam dengan dipasok mesin Rolls-Royce B80Mk.6A delapan silinder, serta dilengkapi pelindung baja Rolled Homogenous Armor (RHA) setebal 16 mm.
Namun di atas ranpur yang dibeli dari Negeri Tiga Singa itu pula, diusung seonggok tubuh tak bernyawa Jenderal Yani dan para pahlawan revolusi korban tragedi 30 September/1Oktober 1965 lainnya – termasuk DI Pandjaitan.
Konvoi ranpur Saracen dengan mengusung peti-peti jenazah berbalut bendera merah-putih itu, mengantarkan para pahlawan revolusi dari Markas Besar Angkatan Darat (MBAD), menuju Taman Makam Pahlawan Kalibata, tepat di hari peringatan TNI 5 Oktober 1965.
“Pemberangkatan dilepaskan dengan salvo penghormatan. Sepanjang jalan dari MBAD ke Kalibata, iring-iringan jenazah (diatas ranpur Saracen) berjalan perlahan disertai mendung dan hujan gerimis. Sepanjang jalan lautan rakyat menangis. Suasana hening, berat,” sebut Amelia Yani lagi di biografi Jenderal Yani.