DIYARBAKιR – Kota-kota yang dulunya tegak berdiri, kini hanya nampak reruntuhannya saja. Penggambaran seperti ini tak hanya terjadi di Suriah, tapi juga di kawasan tenggara Turki, tepatnya kota-kota yang berpopulasi kelompok Kurdi.
Ya, belakangan Turki begitu gencar melancarkan operasi-operasi militer ke Cizre maupun Diyarbakιr. Tapi di Diyarbakir inilah kondisi paling miris terjadi, hingga disebut wartawan asing sebagai kota kematian dan orang-orang yang hilang, bak Kota Nanking di China pada masa Perang Dunia II silam.
Kontributor Russia Today (RT), William Whiteman, menyusuri Kota Diyarbakιr yang beberapa waktu lalu hingga kini, langganan jadi sasaran operasi militer tentara Turki. Di mana-mana, Whiteman mengaku hanya melihat kematian dan duka para keluarga korban.
Saat meliput dengan kameranya, Whiteman juga jadi saksi mata di mana helikopter-helikopter militer Turki berterbangan di atas Kota Diyarbakιr yang kemudian disusul hentakan ledakan dan desingan-desingan peluru.
<iframe width="560" height="315" src="https://www.rt.com/news/335337-diyarbakir-turkish-military-crackdown/video/" sandbox="allow-scripts allow-same-origin" layout="responsive"/></iframe>
Distrik Sur yang masih dalam lingkup Kota dan Provinsi Diyarbakιr, kerap jadi target utama serangan militer Turki, lantaran dianggap basis utama milisi PKK atau Partai Pekerja Kurdi – pihak yang dianggap bertanggung jawab atas bom Ankara beberapa waktu sebelumnya.
Pada sebuah kesempatan, Whiteman juga mewawancarai Mustafa Cukur, ayah dari Rozerin Cukur, gadis berusia 17 tahun yang turut jadi korban pemboman Turki di Distrik Sur.
“Kami melihat berita kematiannya yang dilaporkan televisi pemerintah dan dari internet. Laporan-laporan itu turut memperlihatkan kartu identitas Rozerin yang tergeletak di samping jasadnya,” papar Mustafa kepada Whiteman, dilansir RT, Sabtu (12/3/2016)
Mengenyampingkan rasa lapar karena kota mereka diblokade, Mustafa dan para keluarga korban lain mendapati “tamparan” lain, di mana jenazah para korban dikembalikan otoritas Turki dengan kondisi yang buruk.
“Pada jasad-jasad korban yang dikembalikan pada kami, bagian-bagian tubuh dan organnya seperti sudah dimakan anjing liar. Tubuh-tubuh korban juga terdapat ribuan bekas peluru,” tambahnya.
“Sepertinya militer (Turki) terus menembaki mereka meski sudah mati. Kami bisa mengidentifikasi para korban lewat tes DNA,” sambung Mustafa lagi.
Hingga saat ini, pihak pemerintah Turki berdalih bahwa operasi-operasi militer mereka terhadap milisi Kurdi, demi memastikan stabilitas keamanan kawasan.
“Kami akan terus melancarkan operasi untuk menghancurkan PKK. Ini perlu demi memastikan kedamaian di kawasan,” cetus Menteri Dalam Negeri Turki, Efkan Ala beberapa waktu lalu.
Sementara dunia, terutama Amerika Serikat (AS), masih segan untuk menyinggung masalah ini di forum internasional. Bahkan, juru bicara Kementerian Luar Negeri AS, John Kirby menyatakan, operasi militer terhadap kelompok Kurdi itu merupakan hak Turki.
“Kami sudah memastikan hak Turki untuk mempertahankan diri dari teroris dan kami juga menganggap PKK adalah organisasi teroris. Tapi berulang kali kami katakan, bahwa Turki harus melakukannya (operasi militer) dengan mendasarkan hukum internasional,” timpal Kirby.