Eks Kabais Pertanyakan Penyerahan Pengebor Asal China ke Imigrasi

Syamsul Anwar Khoemaeni, Jurnalis
Jum'at 29 April 2016 05:22 WIB
Foto: Ilustrasi (Okezone)
Share :

JAKARTA – Sebanyak tujuh pekerja ditangkap TNI AU, Senin 25 April kemarin. Lima di antaranya merupakan warga negara asing (WNA) asal  China yang bekerja untuk proyek kereta cepat Jakarta-Bandung dan memasuki kawasan Lapangan Udara (Lanud) Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur tanpa izin.

Mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (Kabais) TNI, Lakma (purn) Soleman Ponto, mempertanyakan alasan penyerahan kelima WNA tersebut ke Imigrasi.

“Kalau saya tahan dulu. Harus diselidiki dulu, apalagi pakai pakaian militer. Harus diinterogasi dulu untuk meyakinkan (lima WNA) bukan siapa-siapa,” ujar Soleman kepada Okezone, Jumat (29/4/2016).

(Baca juga: Respon Menko Polhukam Terkait Lima WNA yang Ditangkap di Halim)

Hal tersebut, lanjut Soleman, untuk mencegah aksi spionase yang dilakukan oleh China. Terlebih posisi Lanud Halim Perdanakusuma merupakan kawasan vital bagi Ibu Kota.

“Kalau saya di Bais saya ambil alih dulu atau Bais harus ambil alih untuk interogasi dulu. Harus diyakinkan tidak ada kegiatan spionase. Karena bisa saja itu spionase. Nah, yang saya heran kenapa langsung diserahkan (ke Imigrasi). Kalau saya kenapa kita harus korbankan Lanud Halim, itukan untuk mempertahankan Ibu Kota,” imbuhnya.

Tak hanya itu, Soleman pun mempertanyakan urgensi proyek kereta cepat yang melintas di dekat Lanud Halim Perdanakusuma. Ia menilai, kawasan Halim merupakan basis yang harus dijaga oleh pemerintah.

“Masih ada jalan lain tanpa harus mengorbankan Halim, tidak ada urgensi. Apakah ada kesengajaan untuk melewatkan Halim? Halim itu basis, kalau kita tidak menghormati Halim lalu siapa lagi,” sambungnya.

(Baca juga: WIKA Sebut Pekerja Geo Central Mining Selonong Boy)

Sebab itu, Soleman mengimbau agar pemerintah mewaspadai adanya aksi human hacking yang dilakukan oleh negara lain atas proyek kereta cepat tersebut. Terlebih dalam tahap pembangunan dianggap sebagai tingkat paling mudah untuk melakukan human hacking.

“Bisa jadi human hacking, bahwa orang-orang sudah kena hacking oleh intelijen asing untuk melihat segala kegiatan di Halim. Sangat rentan bagi kami orang intelijen. Apalagi dalam posisi sekarang, tahap pembangunan segala orang bisa masuk,” pungkas dia.

 

(Rachmat Fahzry)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya