Meski terbiasa merantau, lantunan takbiran saat malam lebaran kadang membuat Yati teringat keluarganya. Jika sudah begitu, komunikasi melalui telefon genggam pun jadi pengobat rindunya.
Hal serupa dialami calon pembantu infalan lainnya, Siska Amalia (21), perempuan asal Tegal, Jawa Tengah itu mengaku, tiga kali lebaran tak berkumpul dengan kelurganya. Saat itu, dia masih terikat kontrak sebagai tenaga pembantu di sejumlah tempat.
"Kalau malam takbiran tidak bisa sama keluarga, paling hanya telefon," ujarnya lirih.
Apa pun risikonya, Siska sudah membulatkan tekad menjadi pembantu infalan lebaran tahun ini. Bersama puluhan calon pembantu infal lainnya, Siska telah tinggal selama dua hari di salah satu kantor penyalur pembantu infalan di Kota Depok, Jawa Barat.
Bagi Siska, pekerjaan tersebut penting untuk mendapatkan biaya membayar tunggakan perawatan anaknya yang telah meninggal. "Lahirnya prematur, anaknya sudah dikubur, tetapi ada cicilan biaya rumah sakit," ucapnya.
Kini, tunggakan Siska di rumah sakit mencapai Rp6,5 juta. Selain membayar cicilan rumah sakit, uang hasil bekerja sebagai pembantu infalan akan digunakan untuk biaya peringatan 40 hari sang anak.