JAKARTA - Pengamat Politik dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Burhanudin Muhtadi menaksir ada tiga skenario bagi PDIP untuk menentukan calon gubernur dalam Pilkada DKI 2017.
Seperti diketahui, PDIP merupakan partai terbesar yang memiliki 28 kursi di DPRD DKI, melebihi syarat minimal 21 kursi untuk mengusung calon. Sehingga, membuka sejumlah kemungkinan soal pengusungan calon gubernur.
Skenario pertama, PDIP akan mengusung calon dari internal partainya dan tidak melakukan koalisi. Jika opsi ini yang diambil, maka kemungkinan kader yang akan diusung adalah Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini atau Wakil Gubernur DKI Djarot Saiful Hidayat.
"Karena tanpa harus berkolaisi dengan partai lain pun PDIP cukup, dengan kekuatan 28 kursi, lebih dari 20 persen persyaratan formal. Otomatis karena kader sendiri, bisa Risma, bisa Djarot atau dipadukan dua-duanya. Intinya dua-duanya berasal dari PDIP," kata Burhanudin usai diskusi bertajuk "Reshuffle Kabinet Jilid II Untuk Siapa?" oleh Ikatan Jurnalis UIN Jakarta di Pondok Cabe, Tangerang, Sabtu (6/8/2016).
Skenario kedua, lanjut dia, PDIP akan membentuk koalisi besar bersama Gerindra dan PKS untuk melawan petahana Gubenur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).
"PDIP membentuk koalisi besar melawan Ahok dengan bergabung dengan Gerindra dan PKS, mengusung Risma sebagai calon gubernur, wakilnya diambil dari partai lain," ungkap dia.
Namun, tidak tertutup kemungkinan pula bahwa PDIP akan mendukung pencalonan Ahok. Hal ini mengingat, hubungan personal yang lekat antara Ahok dengan Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri. "Karena kedekatan personal antara Mega dengan Ahok, itu masih ada kemungkinan," tukas dia.
Sementara itu, politisi PDIP Masinton Pasaribu menyebut Mega sudah mengantongi calon gubernur yang akan diusung dalam Pilkada DKI. Nama tersebut masih disimpan dan akan diumumkan menjelang pendaftaran calon dari partai pada akhir September 2016.
"Sudah ada nama, namanya di dompet Bu Mega, tinggal diumumkan, tunggu waktunya yang tepat sebelum pintu KPU tertutup," kata Masinton ditemui pada acara yang sama.
(Susi Fatimah)