Wujud Cinta Anies pada Pendidikan Indonesia
Dunia pendidikan bukanlah sesuatu yang asing bagi suami Feri Farhati Ganis ini. Lahir dari keluarga Baswedan, Anies mengenal orangtuanya sebagai tokoh yang turut membentuk pendidikan Tanah Air. Sang ayah, Rasyid Baswedan merupakan mantan wakil rektor Universitas Islam Indonesia (UII), sedangkan ibundanya, Aliyah menjadi guru besar di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).
Bagi Anies, ada satu tokoh yang mengilhami berbagai konsep pendidikan ideal menurutnya. Sosok tersebut tak lain adalah Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara.
"Ki Hajar Dewantara menuliskan banyak hal pada 70 sampai 80 tahun yang lalu. Dan apa yang dituliskan Ki Hajar Dewantara, itulah pendidikan yang diterapkan di negara maju saat ini. Bukan karena mereka meniru, tetapi memang pemikirannya sama. Nah, sayangnya kita malah tidak menerapkan. Yang baca bukunya saja hampir tidak ada, termasuk di Kemdikbud. Lantas bagaimana mau menyusun pendidikan kalau bukunya tidak dibaca?" urainya.
Semasa berkantor di Kemdikbud, pemikiran Ki Hadjar selalu menjadi inspirasinya dalam membuat kebijakan pendidikan. Di tangannya, pendidikan diarahkan menjadi makin humanis. Misalnya, Anies dengan tegas menetapkan bahwa ujian nasional (UN) tidak lagi menjadi penentu kelulusan. Bahkan, ia memberikan kesempatan bagi siswa dengan nilai kurang untuk menjalani UN Perbaikan. Ia juga mengedepankan kejujuran pelaksanaan UN melalui Indeks Integritas UN.
Selain itu, peraih beasiswa pertukaran pelajar dari Japan Airlines (JAL) Foundation semasa kuliah ini menginisiasi lahirnya Sekolah Aman serta menghapus masa orientasi siswa (MOS) yang lekat dengan perpeloncoan. Ia juga meletakkan fondasi pendidikan anak usia dini (PAUD) melalui percontohan PAUD Nol Kilometer di Kemdikbud serta membuat direktorat baru, Keayahbundaan. Direktorat ini, bersama kampanye Hari Pertama Sekolah, menjadi beberapa aksi pelibatan publik dalam pendidikan Tanah Air.
"Kebijakan menyangkut pendidikan yang kami lakukan efeknya baru terasa beberapa tahun ke depan. Jadi, jangan hanya berpikir instan. Berpikir instan itu untuk proyek yang sifatnya fisik. Tetapi kalau sifatnya pembentukan atau penumbuhan karakter dan kompetensi, hal itu perlu waktu yang panjang," ucapnya.