Anies Baswedan, Visioner Pendidikan Pembentuk Karakter Bangsa

Iradhatie Wurinanda & Afriani Susanti, Jurnalis
Kamis 11 Agustus 2016 12:44 WIB
Anies Baswedan (foto: Heru Haryono/Okezone)
Share :

JAKARTA - Tepat 20 bulan, Anies Baswedan ada di barisan terdepan perjuangan memajukan pendidikan Indonesia. Namun kiprah Anies mengedukasi bangsa dilakukan jauh sebelum ia dilantik sebagai menteri pendidikan dan kebudayaan (Mendikbud) oleh Presiden Joko Widodo pada 27 Oktober 2014.

Saat menjabat sebagai mendikbud, Anies gencar mengajak semua komponen masyarakat untuk terlibat dalam pendidikan. Menurut pemegang gelar doktor dari Northern Illinois University ini, pendidikan sejatinya adalah sebuah gerakan sehingga perlu partisipasi semua pihak.

Tak heran, di penghujung masa jabatannya, Anies menggalakkan kampanye Hari Pertama Sekolah untuk mengajak para orangtua lebih terlibat dan berinteraksi dengan sekolah dalam memantau pendidikan anak mereka.

Pendidikan bukan hanya fisik, tetapi pada karakter, budaya, termasuk membangun budaya sekolah yang konstruktif. Orangtua harus terlibat dalam sekolah, kolaboratif dengan guru.

"Hari pertama sekolah itu adalah ikhtiar untuk mengembalikan agar pendidikan dikelola sebagai gerakan yang ada nyawanya. Pendidikan adalah interaksi antarmanusia yang bisa menumbuhkan karakter, meningkatkan kompetensi, memiliki kemampuan literasi dasar, dan semua itu diperlukan untuk Indonesia di masa mendatang," ujar Anies, ketika ditemui Okezone di rumahnya yang asri di kawasan Lebak Bulus, Jakarta, belum lama ini.

Sebelum masuk kabinet, Gerakan Indonesia Mengajar dan Gerakan Turun Tangan hanyalah sebagian kecil dari program yang diinisiasi Anies dalam pendidikan dan pembangunan karakter bangsa melalui kelompok anak muda.

Melalui Gerakan Turun Tangan, ayah empat anak itu mengajak calon pemimpin bangsa untuk ikut memikirkan solusi atas berbagai masalah dan langsung terjun ke masyarakat mengatasinya. Setiap tahun, Gerakan Indonesia Mengajar mengirimkan puluhan sarjana untuk menjadi guru di daerah-daerah terpencil.

Bakat menggerakkan massa sendiri sudah terlihat sejak Anies belia. Saat remaja, pria kelahiran Kuningan, 7 Mei 1969 ini terpilih sebagai Ketua Panitia Tutup Tahun SMPN 5 Yogyakarta. Kemampuan Anies dalam memimpin pun kian terasah saat menjadi siswa SMA.

Ia menjadi Wakil Ketua Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) SMAN 2 Yogyakarta serta mengikuti pelatihan kepemimpinan bersama 300 ketua OSIS se-Indonesia. Bahkan, ia pun dipilih menjadi ketua OSIS se-Nusantara. Di jenjang kuliah, Anies aktif menjadi ketua senat Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 1992.

“Bagi para pemuda Indonesia, jangan hanya aktif dalam kelas, tetapi ikut kegiatan yang banyak. Repotlah dalam mengatur waktu. Anda patut bersyukur jika waktu banyak tersita dalam kegiatan karena itu adalah cara menggembleng diri sendiri. Kalau ada pemuda yang berleha-leha dan santai, maka hati-hatilah berarti jurang kegagalan menunggu di depan. Pilihlah jalan yang mendaki karena jalan datar dan menurun tak dapat mengantarkan Anda sampai ke puncak,” sebutnya.

Wujud Cinta Anies pada Pendidikan Indonesia

Dunia pendidikan bukanlah sesuatu yang asing bagi suami Feri Farhati Ganis ini. Lahir dari keluarga Baswedan, Anies mengenal orangtuanya sebagai tokoh yang turut membentuk pendidikan Tanah Air. Sang ayah, Rasyid Baswedan merupakan mantan wakil rektor Universitas Islam Indonesia (UII), sedangkan ibundanya, Aliyah menjadi guru besar di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Bagi Anies, ada satu tokoh yang mengilhami berbagai konsep pendidikan ideal menurutnya. Sosok tersebut tak lain adalah Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara.

"Ki Hajar Dewantara menuliskan banyak hal pada 70 sampai 80 tahun yang lalu. Dan apa yang dituliskan Ki Hajar Dewantara, itulah pendidikan yang diterapkan di negara maju saat ini. Bukan karena mereka meniru, tetapi memang pemikirannya sama. Nah, sayangnya kita malah tidak menerapkan. Yang baca bukunya saja hampir tidak ada, termasuk di Kemdikbud. Lantas bagaimana mau menyusun pendidikan kalau bukunya tidak dibaca?" urainya.

Semasa berkantor di Kemdikbud, pemikiran Ki Hadjar selalu menjadi inspirasinya dalam membuat kebijakan pendidikan. Di tangannya, pendidikan diarahkan menjadi makin humanis. Misalnya, Anies dengan tegas menetapkan bahwa ujian nasional (UN) tidak lagi menjadi penentu kelulusan. Bahkan, ia memberikan kesempatan bagi siswa dengan nilai kurang untuk menjalani UN Perbaikan. Ia juga mengedepankan kejujuran pelaksanaan UN melalui Indeks Integritas UN.

Selain itu, peraih beasiswa pertukaran pelajar dari Japan Airlines (JAL) Foundation semasa kuliah ini menginisiasi lahirnya Sekolah Aman serta menghapus masa orientasi siswa (MOS) yang lekat dengan perpeloncoan. Ia juga meletakkan fondasi pendidikan anak usia dini (PAUD) melalui percontohan PAUD Nol Kilometer di Kemdikbud serta membuat direktorat baru, Keayahbundaan. Direktorat ini, bersama kampanye Hari Pertama Sekolah, menjadi beberapa aksi pelibatan publik dalam pendidikan Tanah Air.

"Kebijakan menyangkut pendidikan yang kami lakukan efeknya baru terasa beberapa tahun ke depan. Jadi, jangan hanya berpikir instan. Berpikir instan itu untuk proyek yang sifatnya fisik. Tetapi kalau sifatnya pembentukan atau penumbuhan karakter dan kompetensi, hal itu perlu waktu yang panjang," ucapnya.

Pendidikan Karakter melalui Pembiasaan

Master di bidang International Security and Economic Policy dari University of Maryland itu berpendapat, karakter menjadi pusat dalam pendidikan. Pendidikan karakter, sebut Anies, sebaiknya jangan dipahami sebagai pengajaran, tetapi menjadi proses pembiasaan. Ia percaya, kekayaan suatu bangsa bukan ditentukan oleh tambang ataupun sumber daya alam lainnya, melainkan ditentukan oleh kualitas manusianya.

"Karakter itu pembiasaan. Karakter disiplin berarti terbiasa disiplin, karakter sopan terbiasa sopan. Nah, selama ini kita seringnya mengaitkan pendidikan karakter pada pengetahuan. Oleh karena itu, saat tes di atas kertas pengetahuan tentang kejujurannya tinggi, tetapi praktiknya tidak jujur," tuturnya.

Prioritas Anies terkait penumbuhan karakter terekam lewat beberapa kebijakan yang dikeluarkan semasa menjadi Mendikbud. Bahkan, Mantan Rektor Universitas Paramadina ini mendapat banyak apresiasi ketika menghapus MOS yang berbau perpeloncoan. Anies berhasil menciptakan budaya baru di mana siswa baru tak perlu memakai atribut aneh selama MOS dan bebas dari kekerasan senior.

"Saya sempat mengirimkan surat kepada para guru dan kepala sekolah. Saya titip agar mereka meneruskan gerakan sekolah sebagai taman yang menyenangkan. Taman yang ada tantangan tapi menyenangkan, dan bukan tempat bersenang-senang. Kalau itu terjadi, maka yang muncul adalah kecintaan pada belajar. Inilah yang harus ditumbuhkan sehingga jangan sampai belajar diartikan dengan meraih angka, meskipun mengejar akademis tetap penting," jelasnya.

Menikmati Waktu Luang

Lepas jabatan sebagai orang nomor satu di jajaran Kemdikbud tak membuat Anies kehilangan kesibukan. Namun, pria yang ikut mengantarkan Presiden Joko Widodo ke kursi RI 1 itu mengaku, kini dia lebih punya banyak waktu untuk keluarganya. Kegiatannya pun lebih banyak dihabiskan di rumah sembari melakoni hobinya lamanya yang sempat tertunda, yakni memelihara burung.

"Saya masih menikmati masa istirahat, belum mau memikirkan rencana ke depannya. Banyak sesuatu yang bisa dibilang selama dua tahun ini tidak sempat dilakukan, termasuk waktu di rumah. Seperti tadi anak saya pulang sekolah, mereka merasa tumben bapaknya ada di rumah. Sekarang saya lagi break menikmati waktu yang kosong ini," pungkasnya seraya tersenyum.

(Amril Amarullah (Okezone))

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya