WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama dijadwalkan bertemu dengan Presiden Filipina Rodrigo Duterte pada 6 September 2016 di Laos. Pertemuan keduanya diselenggarakan di sela-sela KTT ASEAN, di mana salah satu agendanya adalah pertemuan ASEAN-Amerika Serikat (AS).
Pengumuman tersebut disampaikan salah satu pengawal Obama, Ben Rhodes, di Gedung Putih, Washington. Presiden ke-44 Negeri Paman Sam itu akan menyampaikan keprihatinannya terhadap komentar kontroversial Duterte dan juga tewasnya ribuan orang dalam perang narkoba di Filipina.
“Kami tentu saja berharap Presiden Obama akan menyampaikan keprihatinannya mengenai pernyataan Presiden Filipina akhir-akhir ini,” ujar Rhodes merujuk pada pernyataan Duterte mengenai Duta Besar AS untuk Filipina, seperti dimuat Channel News Asia, Selasa (30/8/2016).
“Pertemuan dengan pemimpin dari negara-negara sekutu kami dilakukan secara reguler ketika terjadi perbedaan, entah itu berhubungan dengan hak asasi manusia (HAM) atau komentar kontroversial. Kami menggunakan kesempatan itu untuk langsung membahas isu-isu tersebut,” sambung Rhodes.
Rodrigo Duterte menyebut Duta Besar AS untuk Filipina, Phillip Goldberg, sebagai anak pelacur beberapa waktu lalu. Mantan Wali Kota Davao itu juga mengancam akan meninggalkan PBB jika terus-menerus didesak mengenai kebijakan perang Manila terhadap narkoba yang menewaskan ribuan orang.
Filipina dianggap sebagai salah satu sekutu paling loyal AS di Asia hingga Presiden Rodrigo Duterte naik jabatan pada 30 Juni 2016. Hubungan sekutu keduanya dikukuhkan melalui sebuah pakta kerjasama pertahanan.
(Wikanto Arungbudoyo)