PANDEGLANG – Yayasan Anwarul Hidayah berdiri di tengah gejolak politik Orde Baru. Saat itu Masyumi menjadi satu-satunya partai Islam yang diakui pemerintah. Di dalamnya terdapat beberapa ormas Islam seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.
Pada 1957, sebuah pesantren berdiri dengan nama Anwarul Hidayah, letaknya di Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang, Banten. Di dalamnya para santri diajarkan berbagai ilmu tentang Islam seperti fikih, akidah, tauhid, tasawuf, dan lainnya.
Paham ahlussunnah wal jamaah menjadi dasar untuk memahami agama Islam lebih dalam dan tidak melenceng ke arah yang disebut radikal. Tradisi dan budaya dalam ritual keagamaan merujuk ke NU.
"Yang pertama orangtua kita mendirikan madrasah, terutama sekolah untuk menjaga keseimbangan kehidupan bermasyarakat," kata Kepala Yayasan Hidayah, KH Sauri Usma, beberapa waktu lalu.
Agar tidak tergilas zaman, Sauri Usman yang merupakan generasi keempat pimpinan Yayasan Anwarul Hidayah kemudian membangun sekolah swasta pertama di Kecamatan Menes. Ia mendirikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Walisongo. Tujuannya supaya anak didiknya tak mau begitu saja tergerus modernisasi.
"Yang kedua memang tuntutan sebuah bangsa yang merdeka itu akan berhadapan dengan persaingan. Persaingan ini akan menang apabila kita punya kemampuan," ungkapnya.
Ia menerangkan, ada tiga prinsip dasar Islam yang harus dipegang pemeluknya. Pertama, kata dia, mempunyai kemampuan ilmu. "Yang kedua, kemampuan ekonomi. Lalu yang ketiga, kemampuan kepemimpinan, itu harus. Nah, semua itu ada dalam Islam," sambungnya.