NEWS STORY: Tebak-tebakan & Sepakbola Jadi Selingan Hatta-Sjahrir di Pengasingan

Randy Wirayudha, Jurnalis
Sabtu 17 September 2016 07:17 WIB
Sutan Sjahrir (kiri) & Mohammad Hatta (kanan) (Foto: YouTube)
Share :

BOVEN Digul di Papua pada masa kolonial Hindia Belanda, merupakan tempat terpencil di pedalaman sebagai tempat penahanan dan pengasingan tokoh-tokoh politik musuh pemerintah Hindia Belanda. Mulai dari tokoh-tokoh pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) 1926, maupun para tokoh pergerakan nasional.

Di antara sekira 1.308 tahanan politik (tapol) yang pernah “dibuang” ke sana adalah Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Sayuti Melik, serta Mohamad Bondan. Karena situasinya yang sangat terpencil, Tanah Merah di Boven Digul seolah jadi “neraka” untuk menggerus mental Hatta-Sjahrir Cs.

Sayangnya upaya pemerintah Belanda merusak mental sosok-sosok yang kelak jadi pendiri bangsa itu terbilang gagal. Hatta-Sjahrir Cs justru berusaha menjadikan masa pengasingan mereka di “neraka” Boven Digul, bak “surga” alternatif.

Mereka berusaha tetap menjaga kewarasan dengan berbagai hal-hal sepele yang ternyata, jadi hiburan tersendiri. Seperti permainan tebak-tebakan. Ya, ternyata permainan asah otak ini tidak hanya dilakukan anak-anak masa kini, tapi juga sudah jadi selingan hiburan para tokoh bangsa kita.

Main Tebak-tebakan Menjaga Kewarasan

Saat masih berada di Kapal KPM (Koninklijke Paketvaart Maatschappij) di tengah perjalanan dari Jakarta ke Digul, Bung Hatta mencetuskan pertanyaan tebak-tebakan demi membunuh kebosanan di dek kapal selama berhari-hari perjalanan laut.

“Siapa yang tahu satu perkataan (bahasa Belanda) yang terdiri dari empat huruf ‘K’?,” cetus Hatta melempar teka-teki ke Sjahrir, Bondan dan Suka Sumitro di dek kapal, sebagaimana disarikan dari buku ‘Memoar Seorang Eks-Digulis: Totalitas Sebuah Perjuangan Mohamad Bondan’.

Bondan menjawab, “Lekkerkerker”. Tapi jawaban itu salah karena kata ‘Lekkerkerker’ sejatinya merupakan dua suku kata, yakni ‘Lekker dan Kerker’. Karena yang lain terdiam, termasuk Sjahrir, Hatta pun menjawab sendiri tebak-tebakannya.

“Yang benar kakkerlak (kecoa),” ungkapnya sambil tertawa mengingat hewan menjijikkan yang acap dilihatnya di kamar tahanan. Hatta kemudian melontarkan tebak-tebakan lagi. “Berapa macam warna pelangi?”. Bondan kemudian coba menjawab lagi, “Gibyor!,”.

Sjahrir yang terkejut pun menanyakan apa maksud jawaban Bondan itu. “G untuk Green (hijau), I untuk Indigo (ungu), B untuk Blue (biru), Y untuk Yellow (kuning) dan R untuk Rood (merah dalam bahasa Belanda),” terang Bondan.

Jawaban itu sempat dikritik Suka Sumitro yang menganggap Bondan masih merasa lebih menyukai Belanda. “Eh, jangan lupa kalau penjara (di Kapal KPM) ini masih milik Belanda dan bahasa Belanda masih laku di sini,” tutur Bondan yang kembali mengundang tawa.

Friendly Match Sepakbola Antara Tapol

Selain tebak-tebakan, bermain sepakbola juga jadi hiburan menyenangkan lainnya di masa pengasingan. Ketika sudah tiba di Tanah Merah, Boven Digul pada 22 Februari 1935, para tapol sering memainkan si kulit bundar di tanah lapang, termasuk Hatta dan Sjahrir. Biasanya, sepakbola juga dijadikan ajang perkenalan tapol lama dan baru.

“Kami dari PNI (Partai Nasional Indonesia) ada tujuh orang, ditambah teman-teman dari Partindo (Partai Indonesia) dan PSII (Partai Syarikat Islam Indonesia).

Posisi di depan kiper Murwoto, ada dua bek, yakni Bung Hatta dan Burhanuddin. Sementara Sjahrir penyerang tengah” kenang Bondan dalam memoarnya itu yang memaparkan bahwa dalam laga itu mereka kalah 1-3.

(Randy Wirayudha)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya