Habibie Jadi Tamu Kehormatan Hari Penyatuan Jerman ke-26

Silviana Dharma, Jurnalis
Senin 03 Oktober 2016 23:03 WIB
Wakil Menteri Luar Negeri AM Fachir, Menteri Sekretariat Negara Pratikno, Mantan Presiden BJ Habibie, dan Duta Besar Jerman untuk Indonesia Michael Freiherr von Ungern-Sternberg (Foto: Silviana Dharma/Okezone)
Share :

JAKARTA - Usai memberi kata sambutan dan sekaligus membuka Perayaan Hari Penyatuan Jerman ke-26, Duta Besar Jerman untuk Indonesia, Michael Freiherr von Ungern-Sternberg mengundang Mantan Presiden RI BJ Habibie untuk naik ke atas panggung. Hadir sebagai tamu kehormatan, Habibie diminta untuk mewakili Indonesia menyampaikan kesan dan pesannya terhadap hubungan kedua negara dan relevansi reunifikasi Berlin Barat dan Timur di era modern ini.

Habibie berharap hubungan antara Indonesia dan Jerman akan tetap terjaga di tangan anak-anak muda. Di mana anak-anak Indonesia bisa belajar dan fasih berbicara dalam bahasa Jerman, demikian juga sebaliknya.

"Karena hari ini adalah hari bersatunya Jerman Barat dan Jerman Timur, kurang pas rasanya jika saya berbicara dalam bahasa Inggris. Izinkan saya untuk menyampaikannya dalam bahasa Jerman," demikian kata pakar pesawat terbang lulusan Jerman tersebut di Hotel Shangrila, Jakarta pada Senin (3/10/2016).

Presiden ketiga Indonesia itu adalah tokoh Tanah Air yang tidak pernah absen menghadiri acara peringatan penyatuan Jerman yang diadakan di Jakarta. Pria kelahiran Parepare, 25 Juni 1936 itu memang memiliki kedekatan tersendiri terhadap negara dengan Ibu Kota Berlin ini.

Seperti diketahui, suksesor Soeharto ini pernah mengecap pendidikan tinggi teknik penerbangan di RWTH Aachen, Jerman Barat. Dari negara tersebut dia memperoleh gelar diploma ingenieur pada 1960 dan gelar doktor ingeniuer lima tahun kemudian dengan predikat summa cum laude.

Selain Habibie, turut hadir dalam kesempatan ini, Wakil Menteri Luar Negeri RI AM Fachir dan Menteri Sekretariat Negara Pratikno. Sejumlah Duta Besar dari negara-negara di Eropa dan Asia juga memenuhi undangan tersebut.

Penyatuan antara Republik Demokratis Jerman (Timur) dan Republik Federal Jerman (Barat) diperingati setiap 3 Oktober. Dubes Michael Freiherr menyampaikan, saat ini memang sudah tidak ada lagi Hitler, tetapi Jerman diperhadapkan pada tantangan baru, yakni soal kedatangan pengungsi.

Indonesia dan Jerman menurutnya sudah lama menjalin hubungan yang baik dalam berbagai aspek, seperti politik, ekonomi, pendidikan, budaya dan perdagangan. Ia berharap ke depannya kedua negara bisa mempererat kerjasama di bidang keamanan.

(Wikanto Arungbudoyo)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya