2 TAHUN JOKOWI-JK: Penumpasan Terorisme Patut Diapresiasi

Erha Aprili Ramadhoni, Jurnalis
Senin 17 Oktober 2016 11:43 WIB
Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (Foto: Antara)
Share :

TAK terasa masa kepemimpinan Presiden Joko Widodo menginjak dua tahun. Tepat pada 20 Oktober 2014, Joko Widodo dilantik menjadi presiden untuk periode 2014-2019. Dalam perjalanannya memimpin negeri ini, tentu banyak hal dijumpai Presiden ke-7 RI tersebut.

Mulai dari isu politik yang memanas, harga sembako yang masih belum stabil, perihal pencurian ikan di laut, praktik korupsi yang masih marak terjadi, hingga aksi teror di pelosok Nusantara mewarnai jalannya pemerintahan Presiden Jokowi.

Khusus masalah yang disebut terakhir, terorisme masih marak. Memang tak bisa dimungkiri, terorisme merupakan ancaman nyata yang mengintai sejumlah negara, seperti kisruh di Timur Tengah yang tak kunjung usai.

Ancaman Kelompok Santoso

Kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Santoso menjadi isu yang menyita perhatian pemerintah sepanjang 2015 hingga 2016. Kelompok ini tumbuh subur di daerah rawan konflik Poso, Sulawesi Tengah. Tak sedikit warga yang ikut bergabung dengan kelompok radikal tersebut.

Untuk menumpas aksi teror yang dilakukan MIT, Operasi Tinombala pun digulirkan. Operasi ini melibatkan unsur dari TNI-Polri. Terhitung sejak Januari 2016, Operasi Tinombala diresmikan untuk meredam kelompok teror pimpinan Santoso alias Abu Wardah.

Santoso bukanlah pemain baru. Sejak 2005, namanya sudah menjadi perhatian pemerintah perihal sepak terjang di dunia terorisme. Hingga akhirnya, lewat baku tembak, personel Satgas Tinombala berhasil menembak mati Santoso pada 18 Juli 2016. Baku tembak tersebut terjadi antara kelompok Santoso yang sekira berjumlah lima orang dengan petugas di wilayah pegunungan Desa Tambrana, Pesisir Utara Posos, Sulawesi Tengah.

Setelah itu, selanjutnya pengikut Santoso satu per satu dibekuk. Mulai dari Ibrohim, Basri beserta istrinya Oma, serta Salman dan Jumron yang menyerahkan diri ke polisi. Terakhir, pada 11 Oktober 2016, Tini Kalora yang merupakan istri Ali Kalora ditangkap Satgas Tinombala.

Dengan melemahnya kelompok teroris tersebut, Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengimbau para pengikutinya untuk turun gunung.

"Mereka bahasanya tidak mau menyerahkan diri karena ideologi mereka itu haram menyerahkan diri kepada musuh. Kami ini 'kan musuh. Jadi silakan 'turun gunung' demi kemaslahatan umat yang ada di Poso," kata Tito Karnavian beberapa waktu lalu.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya