Ini 6 Penguasa Monarki Remaja Pencatat Sejarah

Rufki Ade Vinanda, Jurnalis
Senin 28 November 2016 09:09 WIB
Mahkota Imperial State milik Ratu Elizabeth II. (Foto: BBC)
Share :

BANGSAWAN anak-anak biasanya hanya berperan sebagai simbol kerajaan tanpa memiliki pengaruh kekuasaan hingga usia mereka dianggap cukup. Namun beberapa bangsawan yang naik takhta di usia amat muda justru mampu mengukir sejarah.

Contohnya, enam bangsawan muda berikut ini, seperti dinukil dari History, Sabtu (26/11/2016).

1. Ptolemy XIII Theos Philopator (Mesir)

Penguasa ke-13 dinasti Ptolemaic Mesir, Ptolemy XIII, merupakan tokoh ternama yang menggoreskan namanya dalam sejarah selama masa hidupnya yang singkat. Firaun muda ini berkuasa pada 51 sebelum masehi (SM) di usia sekira 11 tahun.

Setelah menduduki takhta, Ptolemy XIII menyadari bahwa kekuasaannya dibayangi oleh kakaknya Cleopatra, yang ia nikahi sesuai dengan adat Mesir kuno. Cemburu dengan kepopuleran sang kakak, pada 48 SM Ptolemy memicu perang saudara dan berusaha mengusir Cleopatra dari Mesir.

 

 Ptolemy XIII Theos Philopator (Foto: Hulton Archive/Getty Images)

Kala itu, Ptolemy juga bersekutu dengan pemimpin Romawi, Pompey, yang tengah berperang melawan Julius Caesar. Ketika dikalahkan Caesar, Pompey datang ke Mesir untuk meminta perlindungan. Untuk mengambil hati Caesar, Ptolemy XIII justru membunuh Pompey. Namun, rencana ini berakhir gagal. Caesar kemudian datang ke Mesir untuk memaksa si pemimpin remaja agar berdamai dengan saudarinya.

Ptolemy XIII akhirnya memutuskan untuk menyerang Roma dan memimpin sendiri pasukan Mesir. Namun Caesar mampu mengalahkan pasukan Ptolemy XIII.

Pertempuran tersebut mengakibatkan perpustakaan terkenal Alexandria terbakar. Ptolemy XIII diyakini tewas tenggelam di Sungai Nil ketika ia mencoba melarikan dari kejaran pasukan Roma.

2. Fulin, Kaisar Shunzhi (China)

Kaisar ketiga Dinasti Qing, Fulin yang juga dikenal dengan sebutan Kaisar Shunzhi, naik ke tampuk kekuasaan pada 1953, setelah ayahnya meninggal. Naik takhta di usia lima tahun, ia dianggap masih terlalu muda sehingga kerajaan mengeluarkan kebijakan bahwa kekuasaan sementara akan dipegang oleh paman Fulin, Dorgon dalam beberapa tahun ke depan.

Pada 1650, Dorgon meninggal dunia dan akhirnya Shunzhi naik tahta secara resmi di usianya yang ke-12 tahun. Khawatir akan ancaman musuh politik, Fulin membangun persekutuan kuat dengan pengadilan kerajaan beserta pejabat penting istana lainnya. Mereka menyusun upaya memerangi korupsi dan mengkonsolidasikan kerajaan di bawah kekuasaan Qing.

Kaisar Shunzhi (Foto: History)

Kaisar Fulin dikenang sebagai pemimpin berpikiran terbuka. Ia menghabiskan banyak waktu untuk mempelajari sains dan astronomi serta memberi toleransi atas perbedaan agama. Sekira 1652, Fulin menerima kunjungan Pimpinan Tibet, Dalai Lama ke-5, di Peking. Di saat yang sama, ia juga rajin berkomunikasi dengan misionaris Austria bernama Johann Adam Schall von Bell. Fulin menganggap Schall sebagai salah satu penasihat terdekatnya dan memanggil Schall dengan sebutan 'Kakek'.

Pada 1661, Fulin meninggal akibat penyakit cacar di usia 22 tahun. Putranya, Kaisar Kangxi memerintah lebih dari 60 tahun.

3. Elagabalus (Roma)

Kaisar Romawi Elagabalus berkuasa pada 15 tahun, selama empat tahun. Elagabalus merupakan turunan asli Suriah dan menguasai Roma pada 218 M setelah ibu dan neneknya memicu pemberontakan dengan mengklaim Elagabalus adalah anak haram kaisar Caracalla yang tewas dibunuh.

Pada masa kepemimpinannya Elagabalus mengeluarkan kebijakan yang memicu kontroversi. Sebelum tiba di ibukota kerajaan, ia menciptakan sosok dewa matahari Elagabal, sebagai dewa tertinggi Roma. Selain itu Elagabalus juga mengejutkan rakyatnya dengan kehidupan seksual yang dimilikinya. Ia kerap berpakaian seperti wanita, dikabarkan terlibat dunia prostitusi dan menjalin hubungan percintaan dengan kusir kereta kudanya.

Elagabalus juga mendapat cemoohan dari para petinggi politik Roma karena mengizinkan ibunya memasuki aula senat yang anggotanya khusus laki-laki. Tak hanya itu, Elagabalus juga dianggap sebagai pimpinan yang korup.

Skandal besar lainnya yakni ketika ia menikah dengan seorang pendeta perempuan yang harusnya tetap suci. Bahkan Elagabalus memplokamirkan hubungan mereka akan membuahkan keturunan berupa seorang dewa.

  

Elagabalus (Foto: Hulton Archive/Getty Images)

Perilaku Elagabalus yang tidak bermoral membuatnya diasingkan. Pada 222 M Elagalabus tewas dieksekusi. Kepemimpinannya digantikan oleh sepupunya Alexander Severus (18).

Elagabalus kemudian dikenal sebagai pemimpin Roma yang tidak bermartabat. Tetapi beberapa sejarawan modern berpendapat, perilaku eksentrik Elagalabus cenderung dibesar-besarkan oleh musuh politiknya sebagai upaya untuk mendiskreditkan dirinya.

4. Tutankhamen

Penemuan makam Firaun Tutankhamen pada 1922 menjadi salah satu temuan yang paling terkenal di dunia. Tutankhamen memerintah selama 10 tahun pada abad ke-14 SM. Ia mewarisi takhta di usia sekira sembilan tahun dan memerintah di bawah arahan penasehat istana karena usianya dianggap masih terlalu muda. Masa jabatan Tutankhamen tidak terlalu dianggap dalam sejarah Mesir, tetapi ia membuat perubahan sosial cukup signifikan.

Momen paling penting selama jabatan Tutankhamen adalah reformasi kebijakan ayahnya yang dijuluki "raja sesat", Akhenaten. Ia mengubah aturan Akhenaten yang menetapkan Dewa Aten sebagai satu-satunya dewa. Tutankhamen mengembalikan aturan lama yang mengakui Dewa Amun serta mengembalikan ibu kota Mesir ke Thebes.

Tutankhamen (Foto: Gianni Dagli Orti/Corbis)

Firaun muda yang juga akrab disapa dengan sebutan 'Raja Tut' meninggal secara misterius pada usia 19 tahun. Kontribusinya yang paling penting bagi sejarah datang 3.200 tahun kemudian ketika peneliti Inggris, Howard Carter, menemukan tempat peristirahatan terakhirnya di Lembah Para Raja.

Penemuan tersebut menjadi salah satu pemakaman Mesir terbaik. Kondisi mayat Tutankhamen diawetkan dengan sistem yang amat sangat baik dan membantu membentuk pemahaman modern tentang kemampuan mengawetkan mayat kerajaan Mesir kuno.

5. Mary, Queen of Scots (Skotlandia)

Mary memimpin Skotlandia sebelum usianya 18 tahun. Ia menjadi ratu Skotlandia pasca-ayahnya meninggal hanya enam hari setelah kelahirannya pada 1542. Kenaikan Mary bayi sebagai ratu sangat berpengaruh dalam hubungan Skotlandia dengan dunia internasional. Imbasnya, raja Inggris kala itu, Henry VIII, mengatur mengatur pernikahan politik antara putranya, Pangeran Edward dengan Mary.

Tekanan politik yang terjadi antardua negara menyebabkan Parlemen Kerajaan Skotlaindia menolak rencana tersebut. Mary dilindungi di beberapa istana ketika Raja Henry VIII menyerang dan memaksakan pernikahan. Peristiwa ini dikenal dengan "Bujukan Kasar".

Mary, Queen of Scots (Foto: History)

Guna menjaga keselamatan Mary dari kejaran Inggris, pada 1548 ratu berusia lima tahun tersebut diboyong ke Prancis. Pada usia 16 tahun, Mary menikah dengan Francis II dan kemudian menjadi ratu Prancis setelah suaminya naik takhta. Pasca-kematian Francis, pada 1561 Mary kembali ke Skotlandia dan melanjutkan tugasnya sebagai seorang ratu.

Mary menikah dua kali sebagai seorang gadis dewasa. Tapi pada 1567 sebuah pemberontakan memaksa Mary turun takhta dan melarikan diri ke Inggris. Mary mendekam di penjara hampir selama 19 tahun sebelum akhirnya dieksekusi akibat perannya yang tak diketahui, dalam komplotan yang berupaya menggulingkan Ratu Elizabeth I.

6. Baldwin IV of Jerusalem (Israel)

Pada usia 16 tahun, Raja Baldwin IV tidak hanya berhasil menyelamatkan Yerusalem dari upaya perebutan wilayah, tetapi ia melakukan hal itu saat tengah menderita penyakit yang melemahkan fisiknya. Lahir pada 1611, Baldwin IV berkuasa di usia 15 tahun setelah kematian ayahnya, Amalric I.

Meskipun menderita kusta sejak kecil, Baldwin IV tetap pergi keluar membela kerajaan melawan Saladin, pemimpin kesultanan Mesir dan Suriah yang terkenal dengan taktik jitunya dalam berperang. Ketika Saladin bergerak menuju kota Ascalon pada 1177, Baldwin muda bergegas menuju lokasi penyerangan, hanya dengan perlengkapan persenjataan yang minim dan beberapa ratus ksatria kerajaan.

Meskipun Saladin menang jumlah, tetapi Baldwin IV berhasil mematahkan serangan Saladin dan memukul mundur pasukan Saladin dalam pertempuran di Montgisard tersebut. Raja remaja itu kembali ke Yerusalem sebagai pahlawan, setelah menyepakati perjanjian damai untuk sementara.

Pascagencatan senjata, Baldwin IV masih banyak pergi berperang melawan pasukan Saladin. Namun ia harus bepergian dengan tandu akibat penyakit kusta yang membuatnya terlalu lemah untuk naik kuda.

Baldwin IV of Jerusalem (Foto: History)

Seiring kondisi kesehatan Baldwin IV byang terus memburuk dalam beberapa tahun berikutnya, ia akhirnya meninggal pada 1185 di usia 23 tahun. Dua tahun kemudian, Saladin memenangkan Pertempuran di Hattin dan berhasil menggulingkan Kerajaan Yerusalem.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya