JAKARTA - Pengamat politik asal Universitas Paramadina, Hendri Satrio mempertanyakan kejelasan dari penangkapan 12 aktivis dan tokoj yang diduga akan melakukan makar terhadap kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi).
"Apalagi yang ditangkap selain aktivis juga melibatkan Pati TNI. Nah, ini jadi masih menyimpan misteri ya," ujar Hendri saat dikonfirmasi Okezone, Jumat 9 Desember 2016 malam.
Menurut dia, walaupun pihak kepolisian mengklaim telah bertindak profesional, namun nyatanya hingga saat ini belum ada penjelasan resmi bukti -bukti atas dugaan makar.
"Kata makar ini kan muncul juga dari pemerintah, apakah masukan kritis kepada pemerintah juga diartikan makar?" ungkapnya.
Paling penting, sambungnya, misteri di balik orang-orang yang ditangkap atas dugaan makar. Pasalnya, pihak kepolisian belum membongkar ke publik latar belakang orang-orang yang disangka makar itu.
"Yang menjadi pertanyaan sebetulnya adalah siapa sih orang-orang ini dan memiliki kekuatan apabila dianggap ingin melakukan makar?" tukasnya.
Diketahui, 10 orang ditangkap dalam kasus dugaan makar pada 2 Desember 2016. Mereka adalah mantan Staf Ahli panglima TNI, Brigjen (Purn) Adityawarman Thaha; mantan Kepala Staf Kostrad, Mayjen (Purn) Kivlan Zein; Ketua Solidaritas Sahabat Cendana Firza Huzein; Alvin Indra.
Kemudian seniman dan aktivis politik Ratna Sarumpaet; pentolan band Dewa 19 sekaligus calon wakil bupati Bekasi, Ahmad Dhani; putri Presiden ke-1 RI Soekarno, Rachmawati Soerkarnoputri; Sri Bintang Pamungkas; dan Eko Sjantjojo. Sementara ada dua orang yang ditangkap dan dijerat Pasal 28 Undang-Undang ITE yakni Jamran dan Rizal Kobar.
Terakhir, kepolisian menangkap mantan anggota DPR 1999–2004, Hatta Taliwang, yang diduga terlibat dengan pemufakatan makar bersama aktivis yang sudah ditetapkan tersangka.
(Arief Setyadi )