Mudik menjadi salah satu fenomena unik dan mungkin hanya ada di Indonesia. Momen di mana kaum urban hendak berkumpul bersama sanak saudara di kampung halaman saat perayaan hari raya, menimbulkan suatu hegemoni yang berimbas pada membeludaknya lalu lintas, terutama arus keluar Jakarta.
Tak ayal, momen tersebut menjadi salah satu faktor pemicu terjadinya gangguan arus lalu lintas seperti kemacetan yang berkepanjangan, kecelakaan lalu lintas, hingga fenomena lainnya seperti membeludaknya pedagang dadakan di pinggir jalan hingga hal unik lainnya.
Di tahun 2016, kejadian luar biasa dalam hal gangguan lalu lintas terjadi saat mudik lebaran Idul Fitri pada awal Juli. Kemacetan parah cenderung horor terjadi pada simpang jalan usai gerbang keluar tol di Brebes Timur, Jawa Tengah. Kemacetan itu biasa dikenal dengan tragedi Brebes Exit (Brexit). Kata Brexit sendiri merujuk pada tren kata serupa di dunia bagian barat saat Kerajaan Inggris (British) menyatakan keluar dari Uni Eropa.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebanyak 17 orang meninggal dunia akibat kemacetan parah tersebut, korban meninggal karena mengalami stres dan kelelahan serta akibat kecelakaan lalu lintas akibat macet yang tak bisa terurai di badan jalan tersebut.
Pintu keluar di Brebes Timur ini dibangun Pemerintah dengan impian membangun Jalan Tol Trans Jawa agar bisa mengurai dan meminimalisir kemacetan pada mudik lebaran. Namun, pembangunan yang belum sempurna, ditambah dengan ketidaksigapan pemerintah mengantisipasi warga yang cenderung memilih tol sebagai jalur utama, membuat tragedi tersebut tak terelakkan. Kemacetan horor pun terjadi, belasan orang meninggal akibat stres dan kelelahan. Mayoritas korban pun merupakan lansia dan anak di bawah umur.
Kanit PJR Tol Palikanci, AKP Sofyan, mengatakan bahwa dampak dari kemacetan parah di pintu tol Brebes Timur pun dirasakan hingga di wilayah Cirebon, Jawa Barat. Meskipun pintu tol Brebes Timur berada di KM 270 Jawa Tengah, namun kemacetan parah tersebut terjadi hingga KM 236 Tol Palikanci. Artinya, secara data statistik, kemacetan mengular dan hampir tak bergerak sepanjang 34 kilometer!
"Ekor antreannya masuk wilayah Jabar, untuk mengurai antrean itu kita melakukan pengalihan arus di exit tol Kanci KM 215 masuk jalur arteri lewat pantura," kata Sofyan.
Sementara, Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Hery Trisaputra Zuna menerangkan, tragedi Brexit saat mudik lebaran 2016 disebabkan karena keinginan masyarakat untuk mudik terlalu besar. Parahnya, hampir semua pemudik memilih menggunakan jalur tol. Akibatnya, kapasitas tol tak bisa menampung volume kendaraan. Kemacetan horor itu pun tak bisa terelakkan.
"Kami tengah mengupayakan untuk membenahi secara fisik tol tersebut yang nantinya para pemudik tidak menumpuk lagi di Brexit. Jadi (nanti pembangunan tol) diteruskan hingga Semarang sehingga tidak tertahan di Brexit," terangnya.
Pihaknya juga meminta kepada aparat kepolisian untuk lebih mempersiapkan pengamanan arus lalu lintas khususnya pada saat mudik lebaran. Jadi arus kendaraan mulai terlihat akan menumpuk di tol, sebaiknya mencari solusi untuk mengurai kemacetan.
"Nanti bisa dialihkan atau bagaimana itu merupakan wewenang kepolisian," terangnya.
Selain di pintu tol Brexit, peningkatan arus lalu lintas saat arus mudik 2016 pun terjadi di Tol Cikopo-Palimanan (Cipali), Jalur Pantura, Kabupaten Bogor, Jalur Lintas Sumatera, dan sejumlah titik lainnya.
Sementara itu, secara umum Mabes Polri merilis, angka kecelakaan lalu lintas pada arus mudik 2016 mencapai 856 kejadian. Dari total tersebut, kecelakaan yang terjadi mengalami penurunan sebesar 25% dari tahun sebelumnya yang mencapai 1.022 kecelakaan. Pada kecelakaan lalu lintas pada arus mudik 2016 sendiri, terdapat 172 orang meninggal dunia, jumlah kecelakaan lalu lintas sendiri didominasi oleh pengendara sepeda motor sebesar 53%.
(Khafid Mardiyansyah)