Mengenal IORA, Asosiasi Negara se-Samudera Hindia

Emirald Julio, Jurnalis
Senin 06 Maret 2017 15:52 WIB
Foto tiga menteri luar negeri perempuan dari Afrika Selatan, Indonesia, Australia dalam keterangan pers di KTT IORA 2017 (Foto: Wikanto/Okezone)
Share :

SEJAK berdiri 20 tahun lalu, untuk pertama kalinya Asosiasi Negara Lingkar Samudera Hindia (IORA) menggelar konferensi tingkat tinggi (KTT). Indonesia terpilih sebagai tuan rumah.

IORA atau Indian Ocean Rim Association merupakan organisasi internasional yang beranggotakan negara-negara yang berbatasan dengan Samudera Hindia. Pembentukan IORA diawali dengan pertemuan yang dihelat Pemerintah Mauritius untuk mendiskusikan bagaimana meningkatkan kerjasama ekonomi di antara para negara di wilayah Samudera Hindia pada 29-30 Maret 1995.

Pada pertemuan yang dinamakan Indian Ocean Rim Initiative itu perwakilan pemerintah, akademisi hingga para pengusaha dari Australia, India, Kenya, Mauritius, Oman, Singapura dan Afrika Selatan turut hadir. Pertemuan lanjutan pada September 1996 di Mauritius akhirnya menghasilkan piagam dasar pembentukan IORA dan menambahkan Indonesia, Malaysia, Sri Lanka, Yaman, Tanzania, Madagaskar, dan Mozambik sebagai anggotanya.

Akhirnya pada 6-7 Maret 1997, IORA terbentuk secara resmi. Pertemuan tersebut mengadopsi Piagam IORA dan membentuk kerangka administratif serta prosedural untuk mengembangkan organisasi internasional tersebut. Pendanaan sejumlah program kerja yang dijalankan IORA selama ini berasal dari kewajiban kontribusi finansial tahunan setiap negara anggota dan dana khusus berdasarkan komitmen suka rela negara anggota serta partner dialog.

Berdasarkan laman Kemlu RI, IORA memiliki enam prioritas dalam kerjasama di antara para anggotanya. Prioritas tersebut terdiri dari:

  1. Keselamatan dan Keamanan Maritim
  2. Fasilitasi Perdagangan
  3. Manajemen Perikanan
  4. Manajemen Risiko Bencana Alam
  5. Kerjasama Akademis, Ilmu Pengetahuan, dan Teknologi
  6. Pertukaran Kebudayaan dan Pariwisata

Saat ini IORA tercatat memiliki 21 negara anggota yaitu Australia, Bangladesh, Komoro, India, Indonesia, Iran, Kenya, Madagaskar, Malaysia, Mauritius, Somalia, Mozambik, Oman, Seychelles, Singapura, Afrika Selatan, Sri Lanka, Tanzani, Thailand, Uni Emirat Arab, dan Yaman. Selain itu ada tujuh negara yang berstatus sebagai partner dialog yaitu China, Mesir, Prancis, Jerman, Jepang, Inggris, Amerika Serikat.

Sebagaimana dikutip dari Kemlu.go.id, Senin (6/3/2017) Indonesia secara resmi memegang jabatan ketua IORA periode 2015-2017 dengan Afrika Selatan sebagai wakil ketua. Selama berada di posisi keketuaan IORA, Indonesia memberikan sejumlah gagasan dan prakarsa strategis. Salah satu gagasan strategis Indonesia yang saat ini telah terealisasi adalah diselenggarakannya KTT IORA di JCC Senayan dari 5 hingga 7 Maret 2017.

KTT IORA 2017 kali ini mengedepankan pemberdayaan perempuan. Salah satu buktinya, tiga menlu perempuan yaitu Menlu RI Retno LP Marsudi, Menlu Australia Julie Bishop dan Menlu Afsel Maite Nkoana-Mashabane memimpin pertemuan tingkat menteri atau (council of ministers). Pertemuan tersebut menyepakati strategi dan visi dokumen IORA yang disebut sebagai Jakarta Concord.  Sebagai tambahan untuk memperkuat enam isu prioritas IORA, Jakarta Concord juga mengesahkan tiga isu baru yang penting untuk kerjasama di masa depan yaitu blue economy (ekonomi ramah lingkungan), pemberdayaan perempuan, dan promosi demokrasi.

Para menteri luar negeri dan perwakilannya juga mengadopsi rencana kerja IORA (IORA Action Plan) yang baru pertama kali dihasilkan. IORA Action Plan adalah sebuah dokumen hidup yang menyajikan langkah-langkah konkret. Negara-negara anggota IORA juga akan mengimplementasi komitmen Jakarta Concord lewat pendirian empat kelompok kerja dalam bidang keamanan maritim, pertukaran budaya dan pariwisata, blue economy, dan pemberdayaan perempuan.

Selain itu, COM turut mengadopsi deklarasi pertama IORA untuk mencegah dan melawan terorisme serta ekstremisme. Sebagai komitmen bersama, anggota-anggota IORA harus bekerja sama dalam menghadapi ancaman terorisme dan ekstremisme. Kerjasama dapat dicapai lewat dialog dan berbagi keahlian, praktik bersama, dan berbagi pengalaman tanpa mengesampingkan promosi pesan moderat serta toleransi.

(Emirald Julio)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya