“Sekarang kan strategi Pak Ahok itu lebih silent, dia tidak terlalu aktif seperti di putaran pertama. Petahana itu selalu memanfaatkan isu-isu lama, bahkan isu tersebut sengaja terus diolah, hingga menguntungkannya di putaran kedua,” tutur Hendri kepada Okezone, Jumat 17 Maret.
“Kan kalau isu yang ada, jika tidak ada orang yang (lawan) tidak pilih Ahok dianggap berarti anti-Intoleransi, nah ini dimainkan, melemparkan isu seperti ini tapi mau Tidak mau itu harus dilakukan oleh Ahok mungkin untuk meredam tingkat elektabilitas Anies sandi yang perlahan mulai naik,” lanjutnya.
Seperti isu kasus penistaan agama, sambung Hendri, isu tersebut akan menguntungkan Ahok, namun jika isu yang dimainkan menyangkut tindak pidana korupsi seperti kasus RS Sumber Waras dan reklamasi pantai utara. Maka dapat dipastikan warga Jakarta akan meninggalkan Ahok.
“Kasus penistaan agama itu sebenarnya menguntungkan buat Ahok daripada dia berhadapan dengan kasus dugaan kasus korupsi Sumber Waras atau reklamasi pantai utara kan akan masyarakat Jakarta begitu korupsi langsung mundur,” tambah Hendri.
Selain strategi senyap, sedianya masih ada satu siasat lagi dari Ahok-Djarot yang harus jadi perhatian besar kubu Anies-Sandi. Yakni strategi penggembosan suara ala Ahok-Djarot yang cenderung mengarah pada kampanye hitam.
“Strategi dari lawan itu adalah gembosi suara, bukan mencari suara baru. Jadi strateginya itu bagaimana caranya suara Anies-Sandi digembosi. Jadi, memang yang dilakukan kampanye negatif yang cenderung ke kampanye hitam,” ketus Syarif, anggota timses Anies-Sandi dalam Diskusi Redbons di Redaksi Okezone.