HISTORIPEDIA: Buru Senjata Pemusnah Massal, AS Lancarkan Invasi ke Irak

Rahman Asmardika, Jurnalis
Minggu 19 Maret 2017 06:01 WIB
Foto tentara Amerika Serikat tiba di Irak (Foto: AFP/Getty Images)
Share :

SETELAH peristiwa 11 September 2001, Amerika Serikat (AS) mengumumkan perang melawan terorisme dengan sasaran utama kelompok Al Qaeda yang mengklaim bertanggung jawab atas tragedi tersebut. Irak yang saat itu dipimpin oleh Saddam Hussein menjadi salah satu negara yang diduga memilki hubungan dengan Al Qaeda dan dituding sebagai negara yang membiayai dan mendukung terorisme.

Tidak hanya itu, Pemerintah AS yang dipmpin Presiden George W. Bush menunjukkan informasi intelijen yang mengindikasikan Baghdad tengah bernegosiasi dengan Niger untuk membeli uranium yang akan digunakan untuk membuat senjata pemusnah massal.

Antara 2002 sampai awal 2003, PBB mengirimkan tim pemeriksa senjatanya ke Irak untuk memastikan apakah Saddam benar-benar melanggar resolusi PBB dan membuat senjata biologis. Upaya tim PBB itu mendapat halangan dari Saddam yang berusaha menghambat pemeriksaan.

Dilansir dari History, Minggu (19/3/2017), setelah gagal mendapatkan dukungan dari anggota penting Dewan Keamanan PBB, di tengah situasi ini, Presiden AS George W. Bush menyatakan siap melancarkan operasi militer ke Irak sendirian dengan Inggris sebagai satu-satunya negara yang setuju untuk bergabung dalam penyerangan.

Pada 15 Maret 2003, AS memberikan ultimatum kepada Saddam dan anak-anaknya untuk segera meninggalkan Irak dalam tempo 48 jam atau menghadapi perang. Ultimatum ini ditolak mentah-mentah oleh Saddam dan keluarganya.

Dua hari setelah ultimatum dilayangkan, tim pemeriksa senjata PBB dievakuasi dari Irak dengan laporan yang belum lengkap mengenai senjata pemusnah massal. Setelah mendapat dukungan dari beberapa negara seperti Belgia dan Spanyol, pada 19 Maret 2003, Presiden AS George W. Bush mengumumkan dimulainya Operation Iraqi Freedom.

Dalam pidato yang disampaikan kepada rakyat AS malam itu, Bush mengatakan, Irak adalah sasaran selanjutnya perang melawan terorisme yang diawali dengan serangan ke Afghanistan pada 2001. Bush menegaskan tujuan lain dari serangan itu adalah untuk membantu rakyat Irak mencapai negara yang bebas, satabil dan bersatu. Presiden ke-43 AS itu juga menyadari ada penolakan dari dalam negeri dan menyatakan keputusan untuk melakukan serangan diambil meski dia sebenarnya enggan.

Akibat invasi AS ke Irak, Presiden Bush mendapat banyak kecaman. Pemerintahannya dituduh memiliki tujuan utama untuk menguasai minyak-minyak yang besar milik Irak atau pembalasan atas upaya pembunuhan yang dilayangkan Saddam.

Laporan mengenai kemungkinan salahnya informasi intelijen yang mendorong dilakukannya serangan semakin menambah sentimen anti-perang. Bush membantah pihaknya memanipulasi laporan tersebut untuk membenarkan invasi ke Irak.

Pada 15 Desember 2003, pasukan AS akhirnya berhasil mengangkap Saddam Hussein yang melarikan diri dan bersembunyi sesaat setelah perang dimulai.

Meski Bush telah menyatakan operasi di Irak tercapai pada akhir operasi tempur, 1 Mei 2003, serangan mematikan oleh pemberontak terhadap pasukan koalisi dan kontraktor di Irak terus berlangsung. Dalam empat tahun pertama setelah invasi, jumlah korban jiwa yang dialami tentara AS mencapai 3.000 orang dengan 23 ribu mengalami luka-luka. Seadangkan dari pihak sipil Irak, korban mencapai lebih dari 50 ribu jiwa.

(Emirald Julio)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya